![]() |
| foto ilustrasi |
Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami isteri itu pergi ke salah seorang
doktor untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil ujian makmal
mengatakan bahwa sang isteri adalah seorang wanita yang mandul,
sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan
bagi sang isteri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk
hamil dan mempunyai anak.
Melihat hasil seperti itu, sang suami
mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya
dengan ucapan: Alhamdulillah.
Sang suami seorang diri memasuki
ruang doktor dengan membawa hasil ujian makmal dan sama sekali tidak
memberitahu isterinya dan membiarkan sang isteri menunggu di ruang
tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki. Sang suami berkata
kepada sang doktor: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan,
akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada isteri saya bahwa
masalahnya ada pada saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.
Terus saja sang doktor menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang
suami terus memaksa sang doktor, akhirnya sang doktor setuju untuk
mengatakan kepada sang isteri bahwa masalah tidak datangnya keturunan,
ada pada sang suami dan bukan ada pada sang isteri.
Sang suami
memanggil sang isteri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada
wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang isteri ia memasuki
ruang doktor. Maka sang dokter membuka sampul hasil ujian makmal, lalu
membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai
fulan- yang mandul, sementara isterimu tidak ada masalah, dan tidak ada
harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang doktor,
sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat
pada raut wajahnya, wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar
Allah SWT.
Lalu pasangan suami isteri itu pulang ke rumahnya,
dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia
tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.
Lima (5)
tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami isteri
bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan,
di mana sang isteri berkata kepada suaminya: “Wahai suami ku , saya
telah bersabar selam sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar
dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:”
betapa baik dan shalihah-nya sang isteri itu yang terus setia
mendampingi suaminya selama sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari
suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya
saya sudah tidak dapat bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera
menceraikan saya, agar saya boleh menikah dengan lelaki lain dan
mempunyai keturunan darinya, sehingga saya dapat melihat anak-anakku,
menimangnya dan mengasuhnya.
Mendengar emosi sang isteri yang
memuncak, sang suami berkata: “isteriku, ini cubaan dari Allah SWT, kita
mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi
sang isteri, suaminya malah berceramah di hadapannya.
Akhirnya
sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi,
ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”. Sang suami setuju, dan dalam
dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar
yang terbaik bagi keduanya.
Beberapa hari kemudian, tiba-tiba
sang isteri jatuh sakit, dan hasil ujian makmal mengatakan bahwa sang
isteri mengalami gagal ginjal. Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya
psikologis sang isteri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata
kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan
kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini
kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya
ingin membelai dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”. Sang istri pun
terlantar di hospital.
Di saat yang genting itu, tiba-tiba
suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap
semoga engkau baik-baik saja”. “Haah, pergi?”. Kata sang isteri. “Ya,
saya akan pergi kerana tugas dan sambil mencari donatur ginjal, semoga
dapat”. Kata sang suami.
Sehari sebelum pembedahan , datanglah
sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa
besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.
Saat itu sang isteri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam
dirinya: “Suami tak berguna dia itu, isterinya dibedah , eh dia malah
pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang pembedahan”.
Pembedahan berhasil dengan sangat baik. Setelah satu minggu , suaminya
datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.
Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang
suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk
istrinya, tanpa sepengetahuan sang isteri, tetangga dan siapa pun selain
doktor yang dipesannya agar menutup rapat rahsia tersebut.
Dan subhanallah …
Setelah sembilan (9) bulan dari pembedahan itu, sang isteri melahirkan
anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para
tetangga.
Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami
telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakulti syari’ah dan
telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah mahkamah di Jeddah. Ia
pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan
riwayat Hafs, dari ‘Ashim.
Pada suatu hari, sang suami ada
tugas out station, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja,
buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang
isteri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.
Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahsia tentang diri dan
rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia
menelefon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali
mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas
suara telefon isterinya dengan menangis pula.
Dan setelah
peristiwa tersebut, selama tiga bulan sang isteri tidak berani menatap
wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berkata dengan menundukkan
mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.


Tidak ada komentar