Select Menu

Ads

Random Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Total Tayangan Halaman

Daftar Blog Saya

My Blog List

Translate

Pages - Menu

Lorem 1

Technology

Circle Gallery

Shooting

Racing

News

Lorem 4

Seorang guru besar Muhammad Rasyid menceritakan masuknya Islam seorang perempuan, guru besar pada sebuah Universitas Amerika yang terjadi pada tahun 2000. Dia menyatakan dan bertanya: ” Tahukah kalian apa sebab dia langsung masuk Islam ? penyebab utama dia masuk Islam adalah bercadarnya mahasisiwi muslimah Amerika yang begitu bangga dengan agama dan cadarnya. Bahkan lantaran itu tiga orang doctor guru besar di Universitas itu, serta 4 orang mahasiswanya masuk Islam. Dengan sebab yang sama dalam masuk Islam itu, mereka telah mencapai jumlah tujuh orang dan sekarang menjadi da’i / penyeru Islam.

Saya tidak ingin memperpanjang kata dalam prolog cerita indah ini, biar Doctor Amerika yang sekarang memakai nama Nabi Muhammad Saw sehingga namanya sekarang menjadi Muhammad Akuya menceritakan sendiri kisahnya.

4 tahun yang lalu terjadi kejadian yang menghebohkan di kampus universitas kami di mana ada seorang muslimah berkebangsaan Amerika masuk menjadi mahasiswi, dia bercadar (berhijab), sementara diantara dosen-dosennya ada seorang dosen yang sangat fanatic membenci Islam, dan selalu memojokkan siapa saja yang tidak mau menyerang Islam. Bayangkan bagaimana sikapnya terhadap orang yang beragama Islam dan memperlihatkan identitasnya dengan terang-terangan ?

Dosen tersebut selalu berusaha untuk memancing emosi mahasiswi tersebut setiap ada kesempatan untuk memojokkan dan menyerang Islam. Dia terus menyatakan permusuhan. Ketenangan mahasiswi itu dalam menanggapi serangan-serangannya membikin sang dosen emosinya memuncak sehingga menyerangnya dengan cara lain.yaitu mempersulit dalam memberikan nilai, membuat posisinya sulit dalam setiap pembahasan, atau bahkan mengurangi nilainya.

Ketika sang mahasiswi merasa kesulitan menghadapi tekanan dosen tersebut dia mengadu pada Rector untuk bisa meninjau permasalahannya. Rektorat memutuskan untuk mempertemukan kedua belah pihak antara Doctor (dosen) dan mahasiswi untuk didengar alasan masing-masing. Sang mahasiswi setuju dengan keputusan itu.

Pada waktu yang telah ditentukan, mayoritas dosen datang, semua antusias untuk manghadiri pertemuan ini,sebab merupakan peristiwa baru pertama kali terjadi di universitas ini. Pertemuan dimulai dengan tampilnya mahasiswi yang menyatakan bahwa dosennya membenci agamanya dan merampas hak-hak ilmiyahnya. Kemudian sang mahasiswi memberikan contoh kasus-kasus yang dihadapi dalam hal ini dan meminta hadirin untuk mendengarkan pendapat sebagian mahasiswi yang belajar bersama dia. Di antara mereka ada yang merasa kasihan kepadanya, dan memberikan kesaksian yang benar.

Setelah itu, sang Doctor berusaha untuk membela dirinya terus berbicara dan kembali mencela agama sang mahasiswi. Pada saat itu berdirilah sang mahasiswi membela Islam, terus menerangkan banyak hal tentang Islam. Apa yang diterangkan oleh mahasiswi tersebut . mampu menarik perhatian forum, sehingga peserta sering melakukan interupsi, menanyakan dan meminta keterangan tentang banyak hal sekitar Islam. Sang mahasiswipun memberikan jawabannya. Ketika sang Doctor melihat peserta asik berdiskusi, dia keluar dari ruangan, karena merasa terjepit karena peserta serius dan memberikan apresiasi kepada sang mahasiswi. Demikian juga orang-orang yang merasa tidak ada hubungan dengan masalah ini. Hanya kita yang tetap memperhatikan dan tertarik untuk berbincang-bincang, pada akhirnya sang mahasiswi membagikan selebaran yang dia tulis dengan judul (Apa arti Islam buat saya ) hal-hal yang mendorongnya masuk agama ini, kemudian menerangkan pentingnya dan pengaruh cadar (hijab). dia juga menerangkan bagaimana perasaannya yang lega terhadap jilbab dan tutup kepala yang dipakainya yang menjadi sebab terjadinya kehebohan ini.

Sikapnya sungguh agung, karena pertemuan belum menghasilkan keputusan, maka dia berkata bahwa dia akan terus menuntut haknya, dan akan terus menentang, dan diapun berjanji kalau tidak menang akan terus menguras tenaganya meski terpaksa harus selalu mengikuti persidangan dan mengakibatkan pelajarannya terhambat. Sikapnya sungguh kuat, kita para dosen tidak menyangka sama sekali bahwa mahasiswi itu begitu tabah dan tegar dalam mempertahankan prinsipnya.

Kami sungguh dibuat terheran-heran terhadap ketegarannya di hadapan banyak dosen juga para mahasiswa. Diskusi tentang masalah ini terus berlangsung di lorong-lorong kampus. Sementara saya merasakan adanya pemberontakan dalam diriku untuk berganti agama. Apa yang saya tahu tentang Islam sungguh mendorong saya untuk melakukan itu, memeluk Islam.Setelah beberapa bulan saya memproklamirkan keIslamanku. Yang kemudian pada tahun itu juga diikuti oleh doctor pertama, kedua dan ketiga. Begitu juga ada empat mahasiswa yang masuk Islam. Begitulah dalam waktu yang relative pendek kita menjadi banyak, kita mempunyai tenaga da’wah untuk memperkenalkan Islam dan da’wah. Dan di sana masih banyak beberapa orang yang sedang dalam tahap berfikir keras, dan sebentar lagi insya’ Allah akan tersebar berita keIslaman mereka di lorong-lorong kampus . Alhamdulillah ( segala puji bagi Allah semata ).



 ***dikutip dari postingan Kisah Penuh Hikmah



Dari Wahab bin Munabbih ra, diberitakan oleh Muhammad bin Abil Qasim bahwasanya pada masa Nabi Isa as, setan berniat menjerumuskan seorang rahib yang sedang bertapa.
Namun usaha setan tersebut tidak membuahkan hasil walaupun dengan berbagai cara ia menggoda.

Kemudian setan mendatangi sang rahib dengan rupa yang menyerupai Nabi Isa as.
Setan memanggil,
"Wahai rahib, mendekatlah kepadaku, aku akan menyampaikan sesuatu kepadamu."
Sang rahib berkata,
"Menjauhlah dariku, aku tak mau menghabiskan umurku dengan membuang-buang waktu."

Setan terus menerus membujuk.
"Marilah mendekat kepadaku, aku adalah Isa Al-Masih."
Sang rahib menjawab,
"Jika engkau benar-benar Isa Al-Masih as, aku sama sekali tidak membutuhkanmu."
"Bukankah dia telah memerintahkan kepada kami untuk beribadah dan memperingati kami dengan hari kiamat."

"Menjauhlah dariku, aku tidak membutuhkanmu," kata rahib.
Maka setan pun pergi dan meninggalkan sang rahib. 

*** dikutip dari postingan Kisah Penuh Hikmah.
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Ada dua pemuda penduduk asli Madinah al-Munawarah. Keduanya tamasya ke Turki untuk mengisi liburan mereka, dengan bersenang2 dan menenggak khamr.

Ketika telah sampai Istambul, keduanya membeli khamr secara sembunyi2, lalu menaiki taxi menuju daerah Riifah dan tinggal di sebuah hotel. Pada saat chek in, resepsionis bertanya ...asal negera mereka. Salah satu dari keduanya menjawab, “dari Madinah.”

Terlihat binar bahagia resepsionis mendngar asal kedua pemuda itu. Disiapkan untuk keduanya paviliyun dengan harga kamar biasa, demi memuliakan tamu yang berasal dari kota Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Alangkah gembiranya keduanya menerima penghormatan itu. Mereka melalui malamnya dgn menenggak khamr. Satu dari keduanya mabuk, sedangkan satunya lagi setengah mabuk hingga mereka tidur.

Tiba2, ada seseorang mengetuk pintu depan. Salah seorang dari keduanya bangun membuka pintu dgn setengah sadar karena kantuk.

Ternyata ada pelayan hotel yg kemudian berkata, “Permisi, Imam masjid kami menangguhkan shalat Shubuh begitu mendengar ada tamu dari Madinah yg menginap di sini, maka kami menunggu Anda berdua di masjid bawah.”

Seperti tersambar petir ia mendengarnya. Buru-buru ia membangunkan temannya dan bertanya, “Kamu punya hafalan al-Qur’an
nggak?”

Ia menjawab, “Ada, tapi tidak mungkin saya berdiri sebagai imam.” Keduanya berpikir keras utk keluar dari ‘masalah’ tersebut. Belum lagi jalan keluar ditemukan, kembali pelayan hotel mengetuk pintu, “Mohon sedikit dipercepat, kami sudah menunggu Anda di masjid bawah, takut kesiangan.”

Buru2 keduanya mandi dan ‘terpaksa’ turun ke masjid. Ternyata masjid penuh seperti layaknya shalat Jumat. Para jama’ah menyalami keduanya seperti layaknya khalayak menyambut seorg ulama.

Salah satu dari keduanya maju menjadi imam. Iapun berusaha mantapkan hati dan bertakbir. Dan tatkala ia mulai membaca...”alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin..” tiba-tiba menangislah jamaah masjid merasa seakan shalat di masjid Nabawi, karena imamnya berasal dari Madinah.

Imam pun terbawa suasana hingga turut menangis sebagaimana makmumnya. Tak ada surat lain yang dibaca selain surat al-Ikhlas di sholat itu.

Usai shalat, orang2 mndekati imam shalat seakan ingin mengenal lebih dekat dan menyalaminya. itulah awal hidayah menyapa dua pemuda peminum khamr itu. Kini keduanya (bertaubat) menjadi da’i di jalan Allah, Allahu Akbar ... walilla hil hamd ..

... Ada kalanya Allah mengkondisikan dirimu dengan suatu ‘masalah’ dan ‘kesulitan’, tapi bisa jadi itu adalah cara Allah memperbaiki dirimu ...

Wallahu a'lam bishshawab 






Dinukil dari  Inspirasi Kehidupan
Catatan Kepala:
”Sikap negatif kita terhadap pekerjaan tidak hanya merugikan perusahaan, melainkan justru lebih banyak merugikan

diri kita sendiri.”

Apakah Anda sering merasakan ‘tidak enak badan’? Hati-hati lho. Boleh jadi dokter pun tidak bisa menemukan penyebab utamanya. Ini bukan karena dokternya kurang canggih. Tetapi, ada jenis-jenis penyakit tertentu yang tidak berkaitan dengan kerusakan atau gangguan pada organ-organ tubuh kita. Jika diperiksa, fungsi tubuh kita berjalan normal kok. Tapi, mengapa kita ‘merasa’ sakit juga? Kondisi seperti itu disebut sebagai penyakit psikosomatis. Meskipun secara fisik kita merasakan sakitnya, namun sesungguhnya hal itu disebabkan oleh kondisi mental kita. Sekalipun mekanismennya belum bisa betul-betul dipahami, namun para ahli occupational health meyakini bahwa hal itu sangat erat kaitannya dengan sikap seseorang terhadap pekerjaannya. Premisnya adalah; orang-orang yang bersikap positif terhadap pekerjaan lebih berpeluang untuk tetap sehat dan segar bugar dalam lingkungan kerja yang dijalaninya setiap hari. Anda, ingin tetap sehat bukan? Maka mulailah dengan bersikap secara positif terhadap pekerjaan.
Penelitian intensif Gallup Organization menemukan bahwa sikap negatif itu ternyata bisa menimbulkan terjadinya berbagai macam penyakit. Baik berupa penyakit fisik, maupun psikologis. Oleh karenanya, jika sering merasa ada gangguan fisik maupun spsikologis, maka kita perlu segera mawas diri; apakah kita memiliki sikap positif terhadap pekerjaan sehari-hari atau tidak. Sebab, penelitian itu jelas sekali menunjukkan hubungan yang erat antara sikap dengan kesehatan kita. Mungkin banyak orang yang mengira bahwa sikap negatif karyawan hanya merugikan atasan atau perusahaan. Padahal ternyata, sikap negatif terhadap pekerjaan tidak hanya merugikan perusahaan, melainkan justru merugikan diri kita sendiri. Jika dikalkulasikan lebih teliti, kita sendiri lebih banyak ruginya daripada pihak lain. Jadi, sudah saatnya memikirkan ulang jika kita ingin menerapkan sikap negatif terhadap pekerjaan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menghindari penyakit akibat sikap negatif terhadap pekerjaan, saya ajak memulainya dengan memahami 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:

1. Pekerjaan kita adalah pilihan kita sendiri.
Adakah orang yang memaksa Anda bekerja di bidang itu? Nggak ya. Kita memilih sendiri pekerjaan itu. Kita yang mencarinya di Koran sabtu atau minggu. Kita yang menyebarkan CV ke agen-agen tenaga kerja. Dan kita ditanya; “Apakah Anda tertarik untuk mengisi lowongan kerja ini?” Kita mengatakan ‘Ya’. Lalu, menandatangani kontrak kerja, tanpa paksaan dari siapapun. Aneh, jika kemudian kita mengeluhkan pekerjaan itu. Meski aneh, namun begitulah kejadiaan yang banyak berlangsung di lingkungan kerja kita. Coba perhatikan, betapa banyak orang mengeluhkan soal pekerjaannya. Ada yang mengeluh karena merasa bosan. Ada yang karena merasa tidak dibayar sepadan. Ada yang mengeluhkan betapa banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada yang mengeluhkan kehidupan pribadinya tersita oleh pekerjaan. Apapun bisa dikeluhkan. Bedanya, ada yang mengeluh dan ada yang tangguh. Mengeluh itu adalah salah satu penanda awal sikap negatif terhadap pekerjaan. Sedangkan menjadi pribadi tangguh adalah ciri adanya sikap positif. Jika sikap negatif masih dominan, maka kita perlu mengingat kembali bahwa pekerjaan ini adalah pilihan kita sendiri.

2. Setiap pekerjaan memiliki karakteristik masing-masing.
Sikap negatif kita terhadap pekerjaan kadang juga timbul dari rasa iri kepada orang lain. Gaji sama, tapi kerjaan di departemen kita lebih berat. Tetangga kubikal sebelah sudah bisa pulang jam 5 sore. Saya? Paling cepat jam setengah tujuh malam. Nggak fair. Lha, justru kitalah yang tidak fair jika membandingkan fungsi atau peran kita dengan peran orang lain. Fungsi sales punya karakteristik yang berbeda dengan fungsi produksi, misalnya. Begitu pula dengan fungsi finance. Orang sales, bisa meninggalkan kantor jam berapa saja. Tidak berarti mereka boleh pulang, melainkan mereka harus menyongsong pelanggan. Orang pabrik harus strik dengan pengaturan waktu yang ketat. Bukan diperbudak, melainkan mereka harus bekerja dengan urutan proses yang memungkinkan suatu produk dibuat. Orang finance kadang harus membuat laporan sampai larut malam. Bukan diperlakukan seperti robot, melainkan ada masa-masa tertentu dimana mereka harus melakukan konsolidasi pembukuan dan mengirimkan laporan ke kantor pusat. Jika masing-masing orang hanya melihat enaknya orang lain, maka bukan dampak positif yang didapatkannya, malah sikap negatifnya akan tumbuh semakin menjadi. Tidak perlu iri pada orang lain. Karena setiap pekerjaan, memiliki karakteristiknya masing-masing.

3. Kualitas kerja kita mencerminkan kualitas diri kita.
Kalau Anda melihat suatu tugas dikerjakan dengan buruk, Anda tentu bertanya; “Siapa sih yang ngerjain? Kok hasilnya kayak gini!” Ada ‘cita rasa’ universal untuk sebuah kualitas kerja. Anda, tentu tidak mau berada dalam satu team dengan orang yang ‘kerjaannya’ kurang bagus. “Entar gua-gua juga yang mesti ngebenerin kerjaan nggak beresnya,” kan begitu pikiran yang membayangi Anda. Sebaliknya, Anda selalu ingin menjadi bagian dari team yang terdiri dari orang-orang yang bisa menghasilkan pekerjaan yang bagus. Semua itu menunjukkan bahwa kualitas kerja kita mencerminkan kualitas diri kita sendiri. Maka jika ingin orang lain tahu seberapa baiknya kualitas diri kita, tidak ada cara lain selain memastikan bahwa pekerjaan yang kita tangani diselesaikan dengan kualitas yang terbaik. Namun, hal itu tidak mungkin bisa diwujudkan jika kita bersikap buruk terhadap pekerjaan itu. Tidak usah merasa rugi memberikan kualitas kerja yang lebih baik dari kebanyakan orang yang lainnya. Sebab, kita sendiri yang untung kok. Orang yang kerjanya baik itu, paling berpeluang untuk dipekerjakan lebih langgeng. Orang yang kerjanya baik itu, paling besar peluangnya untuk mendapatkan kepercayaan yang lebih besar. Dimana ruginya coba? Tapi kan gajinya sama? Lha iya. Gajinya sama. Tapi kualitas diri Anda jauh lebih baik daripada pegawai lainnya yang berkualitas biasa-biasa saja. Atau, apakah kualitas Anda juga sama seperti mereka? Anda lebih baik. Buktikan kata-kata saya.

4. Sikap negatif tidak menghasilkan manfaat positif.
Anda boleh menggunakan hukum apapun untuk mematahkan penyataan saya. Hukum matematika: positif dikali negatif, hasilnya negatif. Hukum fisika; jika ada campur tangan ion negatif pada ion positif, Anda bisa kesetrum. Hukum sosial; orang negatif dalam komunitas orang-orang positif akan dikucilkan. Ditempat kerja, sikap negatif sama sekali tidak produktif. Padahal gaji dan bayaran kita itu dihitung dan dikaitkan dengan kontribusi atau produktivitas kerja kita sendiri. Sudah banyak lho kejadian orang-orang yang sikapnya negatif akhirnya dipersilakan untuk meninggalkan perusahaan. Ada juga kok yang sikapnya negatif, tapi kerjaannya bagus. Memang ada juga orang yang kemampuan kerjanya tinggi. Pengetahuannya luas. Dan pengalamannya panjang. Makanya, pekerjaan itu cetek saja baginya. Sehingga, semua pekerjaannya bisa diselesaikan dengan baik. Tetapi, orang ini lupa bahwa selain soal pengetahuan (Knowledge) dan Keterampilan kerja (Skill), ada aset lain yang wajib dimiliki oleh seorang pekerja profesional yaitu Sikap (Attitude). Boleh kok kalau mau Skill dan Knowledgenya doang yang bagus. Tapi, siap-siap saja kesalip oleh orang lain yang punya sikap baik. Mengapa? Karena cepat atau lambat pengetahuan dan keterampilan kerja mereka juga akan meningkat semakin baik. Jika dikombinasikan dengan sikap positif yang selama ini sudah dimilikinya, maka cepat atau lambat mereka akan mengunggulinya. Mengapa, karena hanya sikap positif yang menghasilkan dampak positif.

5. Kita sendirilah yang merasakan dampak dari sikap kita.
Mungkin hal ini tidak mudah dimengerti oleh orang-orang yang mendahulukan emosi. Rasa kesal memang sering menutupi akal sehat. Tetapi, marilah kita kembali pahami bahwa setiap tindakan kita tentu menghasilkan konsekuensi-konsekuensi. Artinya, tindakan baik menghasilkan konsekuensi baik. Sedangkan tindakan buruk menghasilkan konsekuensi buruk. Meski tidak selamanya terlihat dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang; hal itu tidak terbantahkan. Sikap baik kita kepada pekerjaan mungkin tidak menyebabkan kita langsung naik gaji, kan? Tetapi, setelah 5 tahun secara konsisten kita menunjukkan sikap positif itu, ada kesempatan seiring dengan berkembangnya kondisi perusahaan. Sudah bisa dipastikan jika orang-orang yang telah bertahun-tahun bersikap dan berdedikasi baik itu masuk kedalam daftar orang-orang yang layak dipertimbangkan untuk meraih manfaat dari peluang yang ada. Sebaliknya, seseorang yang bersikap negatif mungkin tidak serta merta dipotong gajinya. Tetapi setelah selama bertahun-tahun dia melakukannya, akan membekas juga didalam benak atasan, perusahaan atau pengambil keputusan. “Dengan kepercayaan kecil saja dia sudah sedemikian banyaknya mengeluh. Apalagi jika dia diberi kepercayaan yang lebih besar dari itu?” kan kira-kira begitu. Maka sikap manapun yang kita pilih, ya bebas saja. Tidak ada yang memaksa. Atau menghalanginya. Namun, kita perlu selalu mengingat hal ini: kita sendirilah yang merasakan dampak dari sikap kita terhadap pekerjaan.

Apapun sikap yang kita ambil terhadap pekerjaan adalah pilihan kita sendiri. Ada kalanya ‘menggertak’ perusahaan berhasil juga memang; “kalau nggak naik gaji, saya keluar.” “Kalau nggak ngasih bonus lebih, saya bikin usahanya macet.” Mungkin kadang berhasil juga. Namun, cara itu tidak akan selamanya mempan. Sekalipun memang kadang mempan, namun hal itu memperlihatkan nilai dari integritas pribadi kita. Percayalah, tidak ada atasan atau pemilik perusahaan yang benar-benar nyaman kondisi seperti itu. Ketika mereka memiliki pilihan lain yang lebih baik, mereka mungkin akan menempuh cara lain. Selain itu, kita perlu sadari bahwa perilaku kita juga menentukan reputasi kita. Dan para pemilik perusahaan atau atasan yang handal biasanya memiliki jaringan yang kuat dalam industrinya. Sehingga mereka saling berkomunikasi dan bercerita satu sama lain. Di arena tender mereka memang saling berkompetisi. Tapi dipadang golf, mereka adalah sahabat yang saling berbicang selama perjalanan dari lubang ke lubang. Jika reputasi kita buruk di perusahaan ini, maka boleh jadi ceritanya sampai juga ke perusahaan lainnya. Nah, sekarang kita tahu bahwa penyakit yang ditimbulkan oleh sikap negatif itu bukan hanya bersifat fisik dan psikis saja, melainkan juga terhadap reputasi kita. So, mendingan mengurangi sikap negatif deh. Lalu menggantinya dengan sikap positif terhadap pekerjaan kita. Hayyyu….

Catatan Kaki:
Sikap negatif terhadap pekerjaan itu bukan hanya merusak kondisi fisik dan psikis kita, melainkan juga merusak reputasi profesionalitas kita.

Disadur dari artikel
Sudahkah Anda Tahu  Dan Fiddini Jilbab


"Azab Allah SWT" aksi protes bakar jilbab di India berakhir mengenaskan ini contoh dan pelajaran bagi siapapun yang menentang dan membenci syariat Islam dan seluruh perintah-perintah Allah SWT. Sekumpulan wanita India melakukan aksi protes dengan mencoba membakar jilbab yang sengaja mereka bawa. Namun, apa yang terjadi? Allah mengadzab wanita ini dan membakarnya di dunia. Api membakar tubuh wanita tersebut. Allahu Akbar dalam sebuah tayangan video yang telah tersebar luas di Youtube, yang diposting oleh Muslim Mowahed, terlihat sekelompok perempuan India melakukan aksi protes terhadap jilbab atau hijab pakaian yang diwajibkan oleh Allah SWT, kepada Muslimah (wanita Muslim). Perempuan-perempuan India ini, mengenakan pakaian tradisional India (Sari) terlihat diatas tandon (tempat penampungan) air yang cukup tinggi dan mulai berteriak-teriak memprotes hijab atau jilbab. Tak lama kemudia, nampak seorang dari mereka, dibantu rekannya, langsung meletakkan jilbab hitam, yang sudah dipersiapkan, menyiramkan bensin, dan lalu membakarnya. Apa yang terjadi, si perempuan itu yang ternyata langsung membara. Api langsung menjilat seluruh tubuhnya. Si wanitapun langsung turun dengan kobaran api yang sudah menyelimuti seluruh tubuhnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Sementara satu wanita lain pun terbakar dengan api yang menyala-nyala dan masih diatas tandon. Teriak dan jerit histeris bersahutan keluar dari para peserta aksi yang sebagian besar wanita India dan ada juga pria dengan memakai pakaian khas agama Sikh. Menurut informasi yang ada di video Youtube yang diposting Ahad, (03/02/2013) ini, si wanita tadi seorang guru dari Punjab yang akhirnya tewas mengenaskan dalam insiden konyol tersebut