Random Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
Labels
Followers
Total Tayangan Halaman
Blog Archive
-
▼
2013
(92)
-
▼
Februari
(12)
- JANGAN ABAIKAN PERANAN ORANG LAIN
- MUTIARA NASIHAT ABU DARDA
- SANDAL HILANG DI MASJID
- Astaghfirullah, Ibu Telantarkan Bayinya dan Pergi ...
- WANITA PERANCIS DAN WANITA ARAB
- SIAPAKAH TENTARA ALLAH TA'ALA YANG PALING BESAR?
- 10 Binatang Yang Masuk Surga
- DAHSYATNYA TAUBAT
- 17 Jurus Membahagiakan Suami
- KETIKA KHALIFAH UMAR GILA
- Pandai Besi dari Nisyapur
- KEJUJURAN SANG SOPIR
-
▼
Februari
(12)
Daftar Blog Saya
My Blog List
Translate
Pages - Menu
Lorem 1
Technology
Circle Gallery
‹
›
Shooting
Racing
News
Lorem 4
Doa pertama, memohon diturungkan makanan. Esok harinya, lelaki pertama melihat pohon penuh buah-buahan tumbuh disisi tempat tinggalnya.
Sedangkan
di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.
Seminggu kemudian. Lelaki pertama merasa kesepian dan memutuskan berdoa agar diberikan isteri, keesokan harinya, ada kapal karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang terdampar di sisi pulau tepat lelaki pertama tinggal.
Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apa.
Segera saja, lelaki pertama ini berdoa memohon rumah, pakaian dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban, semua yang diminta hadir untuknya.
Seminggu kemudian. Lelaki pertama merasa kesepian dan memutuskan berdoa agar diberikan isteri, keesokan harinya, ada kapal karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang terdampar di sisi pulau tepat lelaki pertama tinggal.
Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apa.
Segera saja, lelaki pertama ini berdoa memohon rumah, pakaian dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban, semua yang diminta hadir untuknya.
Sedangkanlelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.
Akhirnya, lelaki pertama ini berdoa meminta kapal agar ia dan isterinya dapatmeninggalkan pulau itu.
Pagi siang hari mereka menemui kapal tertambat di sisi pantainya.
Segera saja lelaki pertama dan isterinya naik ke ataskapal dan siap-siap berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan meninggalkan lelaki kedua yang tinggal disisi lain pulau.
Menurutnya lelaki kedua itu tidak pantas menerima keajaiban tersebut kerana doa-doanya tak pernah terkabulkan.
Apabila kapal siap berangkat, lelaki pertama mendengar suara dari langit, “Hai. Mengapa engkau meninggalkan rakanmu yang ada di sisi lain pulau ini?”
“Berkatku hanyalah milikku sendiri, hanyakerana doakulah yang dikabulkan,” jawab lelaki pertama.
“Doa temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka ia tak pantas mendapatkan apa-apa,”
“Kau salah!” suara itubertempik.
“Tahukah kau bahwa rakanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa.”
Lelaki pertama bertanya, “Doa macam apa yang dia panjatkan sehingga aku harus berhutang atas semua ini padanya?”
“Dia berdoa agar semua doamu dikabulkan”
Kesombongan macam apakah yang membuat kita merasalebih baik dari yang lain?
Banyak orang yang telah mengorbankan segalanya demi kebahagiaan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peranan orang lain, dan janganlah menilaisesuatu hanya dari “yang terlihat” saja.
Semoga kita bisa mengambil pelajarannya.
KISAH INSPIRATIF
Sauadaraku,
Abu Darda' dikenal sebagai sahabat yang zuhud dan ahli ibadah. Suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Kattab ra memanggilnya dan menawarinya jabatan yang strategis. Yang mungkin di zaman ini menjadi rebutan banyak orang. Yakni menjadi gubernur di kota bisnis Internasional, Syiria
Umar berkata, “Wahai Abu Darda’, aku ingin mengangkatmu menjadi gubernur di Damaskus, Siria.”
Sekiranya kita yang ditawari jabatan seperti ini oleh SBY tanpa melalui proses Pilgub. Tentu kita akan menerimanya dengan wajah berbinar-binar, senyum mengembang dan hati berbunga-bunga. Walaupun kita tidak yakin akan mampu mengemban amanah besar itu. Tasyakuran tiga hari pun digelar, dengan mengundang masyarakat, politisi dan para tokoh serta para pengusaha tentunya. Tidak jarang, para artis dan selebritis pun diundang guna menyempurnakan acara pesta tersebut dengan hiburan dan goyang dangdutnya.
Abu Darda' dikenal sebagai sahabat yang zuhud dan ahli ibadah. Suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Kattab ra memanggilnya dan menawarinya jabatan yang strategis. Yang mungkin di zaman ini menjadi rebutan banyak orang. Yakni menjadi gubernur di kota bisnis Internasional, Syiria
Umar berkata, “Wahai Abu Darda’, aku ingin mengangkatmu menjadi gubernur di Damaskus, Siria.”
Sekiranya kita yang ditawari jabatan seperti ini oleh SBY tanpa melalui proses Pilgub. Tentu kita akan menerimanya dengan wajah berbinar-binar, senyum mengembang dan hati berbunga-bunga. Walaupun kita tidak yakin akan mampu mengemban amanah besar itu. Tasyakuran tiga hari pun digelar, dengan mengundang masyarakat, politisi dan para tokoh serta para pengusaha tentunya. Tidak jarang, para artis dan selebritis pun diundang guna menyempurnakan acara pesta tersebut dengan hiburan dan goyang dangdutnya.
Berbeda dengan sahabat agung ini, setelah mendapatkan tawaran menggiurkan dari sang khalifah ia berujar, “Sekiranya engkau rela aku pergi ke sana (Damaskus) untuk mengajari penduduknya kitab Rabb mereka (al Qur’an) dan sunnah Nabi-Nya serta menjadi imam shalat bagi mereka, maka aku akan taati perintahmu dengan tulus. Tapi jika aku diminta menjadi penguasa (gubernur) di sana, maka aku sama sekali tidak berminat. Biarkan aku (menjadi diriku sendiri)!.”
Saudaraku..
Barang kali, di zaman ini seorang presiden akan murka dan marah besar, jika ada tawarannya ditolak oleh salah seorang dari rakyatnya.
Tetapi tidak demikian dengan Umar, ia dapat memahami apa yang ada di hati sahabatnya ini, dan menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Abu Darda’. Ia mengutusnya ke Damaskus bukan untuk menduduki jabatan gubernur. Namun menjadi penuntun umat. Obor penerang jalan hidup mereka. Menjadi da’i di jalan Allah Swt.
Umar berkata, “Berangkatlah ke Damaskus dan tunaikan tugasmu dengan baik. Karena profesi itu yang menjadi pilihanmu!.”
Sesampainya di negeri itu, ia saksikan masyarakatnya telah tenggelam dalam kemewahan hidup dan silau dengan bangunan-bangunan megah.
Di atas mimbar, Abu Darda’ dengan suara lantang mengingatkan penduduk Damaskus perihal bahaya berjauhan dengan ahli ilmu. Silau dengan dunia yang akan ditinggalkan. Membangun perumahan mewah yang tidak dihuni abadi. Gemerlapnya dunia telah menggelapkan mata, dan melupakan hakikat masa depan mereka di akherat sana.
Karena untaian nasihatnya sangat menyentuh kalbu orang yang mendengarnya, maka tidak jarang air mata mengucur membasahi wajah mereka. Isak tangis pun bahkan terdengar dari luar masjid.
Mengapa nasihatnya teramat membekas di hati? Karena nasihatnya memancar dari ketulusan hati, mengalir dari telaga keikhlasan. Dan bukan memantul dari lisan yang haus imbalan dan lapar akan pujian serta sanjungan.
Abu Darda’ mengadakan pendekatan khusus terhadap para pemuda, yang menjadi harapan Negara di masa depan. Baik dan buruknya suatu negeri sangat ditentukan oleh mereka.
Suatu hari ia menasihati seorang pemuda:
• “Wahai anakku, ingatlah Allah di waktu senang, niscaya Dia akan mengingatmu di kala susah.”
• “Wahai anakku, jadilah engkau seorang yang berilmu, atau penimba ilmu, atau hadir di majlis ilmu. Dan jangan engkau menjadi orang yang tak berilmu yang akan menyebabkanmu binasa karenanya.”
• “Wahai anakku, jadikanlah masjid sebagai tempat tinggalmu. Karena aku pernah mendengar Nabi Saw bersabda, “Masjid adalah rumah bagi insan bertakwa.”
• “Wahai anakku, tempat ibadah seorang muslim adalah rumahnya sendiri. Di sana ia menjaga diri dan pandangannya. Dan hindarilah duduk-duduk di pasar tanpa keperluan, karena yang demikian itu termasuk perbuatan tak berguna dan sia-sia.”
Saudaraku..
Mari kita renungi beberapa butir nasihat Abu Darda’ di atas.
Mengingat Allah Swt di kala senang, maka Dia akan mengingat kita di kala susah.
Hal ini senada dengan sabda Nabi saw, “Kenali Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalimu di kala sempit.” HR. Al Hakim.
Tapi yang banyak dialami oleh kita justru sebaliknya, di mana kita menyebut nama Allah Swt saat kita sakit, bangkrut, gagal menempuh cita, lengser dari jabatan, ambruk, kondisi payah, miskin, terhimpit hutang, popularitas redup, terbebani persoalan hidup yang berat dan seterusnya. Pada saat itu kita ingat dan berdo’a kepada-Nya. Karena kita yakin tak dapat bertumpu kepada makhluk-Nya yang lemah seperti kita. Karena kita sadar, hanya Dia-lah yang mampu menolong dan menyelamatkan kita dari keterpurukan dan kelemahan serta kesempitan hidup.
Namun di saat kesuksesan, kelapangan, kejayaan dan keberuntungan menyapa kita, seperti; popularitas di puncak, duduk di kursi jabatan, asset bertebaran di mana-mana, kekayaan berlimpah, tubuh sehat bugar, perniagaan laris manis dan cita-cita tergapai dan yang senada dengan itu. Kala kejayaan menaungi kita, Allah Swt pun kita lupakan. Karena kita merasa bahwa semua kesuksesan itu lahir dari usaha dan kecerdasan kita sendiri dan tak ada campur tangan Allah Swt. Padahal jika Dia tidak membantu dan merestui kita, maka semua itu akan menjauh dari kita. Sehebat dan sekuat apapun kita.
Abu Darda’ juga mendorong kita untuk selalu berada di ruang atau majlis ilmu pengetahuan. Entah itu sebagai pentransfer ilmu yang dimiliki, atau sebagai pelajar atau sebagai pendengar nasihat. Karena hanya dengan ilmu, arah petunjuk jalan menuju Allah dan puncak penghambaan diri kepada-Nya menjadi terang benderang. Tanpa ilmu, maka jalan menuju ke sana menjadi gelap, tak tentu arah. Pada akhirnya kita akan tersesat jalan dan terlempar ke jurang kehinaan.
Sa’id bin Musayyib rahimahullah, ulama tabi’in senior yang memiliki santri ribuan, ia biasa menghadiri majlis ilmu ulama lain. Tujuan agar ia terbiasa mendengarkan nasihat dari orang lain dan mendapatkan pahala menghadiri majlis ilmu.
Menjadikan masjid sebagai tempat tinggal kita, maknanya adalah hati kita senantiasa terpaut dan terikat dengan masjid. Rindu untuk selalu berdekatan dan bermunajat kepada Allah Swt. Orang yang hatinya selalu tergantung di masjid, merupakan satu dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah Swt pada hari kiamat, sebagaimana yang pernah disabdakan Nabi saw.
Nasihat terakhir dari sahabat agung ini adalah agar kita tidak menjadikan rumah kita sebagai kuburan. Tiada cahaya al Qur’an di sana. Tidak ditunaikan shalat-shalat sunnah di sana. Tiada majlis ilmu di dalamnya. Tiada nilai-nilai tarbiyah yang kita tularkan pada anak dan istri kita dan seterusnya.
Rasulullah Saw pernah berpesan, “Apabila salah seorang di antara kamu selasai melaksanakan shalat (fardhu) di masjidnya, maka sisakanlah sebagian shalat yang lain (sunnah) di rumahnya, karena sesungguhnya Allah menjadikan sebagian shalat yang ditunaikan di rumahnya sebagai suatu kebaikan.” HR. Muslim.
Saudaraku..
Sanggupkah kita menjadi sosok seperti Abu Darda’ atau ingin menjadi abu abu? Wallahu a’lam bishawab.
Sumber: Status Ustadz Abu Ja’far
TOKOH INSPIRATIF ISLAM
by:Dunia Islam
Seorang pria muda baru pulang dari berbelanja di sebuah minimarket. Biasanya usai berbelanja keceriaannya terpancar berlipat-lipat. Namun, kali ini selain kesenduan, sumpah serapah juga mengalir dari mulutnya. Dia baru saja kehilangan helm barunya. “Aku sengaja beli helm mahal supaya tahan lama. Tapi malah digondol maling keparat itu!” omelnya.
Semalaman dia mengomel terus dengan muka marah padam. Para pegawai minimarket hanya mengerut ketakutan saat dikomplain soal kehilangan tersebut. Dia betul-betul kecewa dan marah besar atas kejadian tersebut. “Kalau maling itu kutemukan, dia pasti kucincang-cinca ng sampai lumat.”
Sesampainya di rumah, istrinya bertanya, “Apa yang kaurasakan saat ini?”
Suaminya menjelaskan dengan suara tinggi, “Kepalaku pusing, pandanganku berkunang-kunan g, darahku mendidih, selera makanku hilang.”
Beruntunglah Pria itu mempunyai Istri yang pandai menghibur dan menggembirakan sang suami…….
“Bukan hanya helm yang berhasil dicuri maling itu, tapi juga kebahagiaan hidupmu, sayang. Bila kau terus-terusan marah, penyakit darah tinggimu akan kambuh, pikiran jadi kacau hingga tak bisa mencari nafkah dengan baik. Jika kau ikhlas dan lebih berhati-hati di lain waktu, pikiranmu akan tenang sehingga bisa mencari rezeki yang lebih banyak. Insya Allah, rezeki yang diperoleh dengan ketenangan itu melebihi harga helm yang hilang,” terang istrinya.
“Aku menabung lama untuk membeli helm mahal itu. Aku belum bisa menerima kenyataan ini, aku tak rela,” ungkap suaminya masih kesal.
“Baiklah, maukah kau mendengar kisah tentang orang saleh yang tak mau kehilangan kebahagiaannya? ” tanya istrinya. Suami yang kelelahan akibat kehabisan energy meluapkan amarah itu tak punya pilihan kecuali menyetujui tawaran istrinya. Si istri pun memulai ceritanya.
Suatu hari seorang musafir mengalami kejadian buruk di tempat baik. Sengaja dia datang ke masjid guna menunaikan ibadah beribadah kepada Allah. Tak ada perbuatan buruk yang dilakukannya di tempat suci itu. Bahkan doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT hanyalah yang berkaitan dengan kebaikan.
Seusai shalat, musafir itu keluar dari masjid. Ternyata sandal satu-satunya hilang dari tempat semula. Semua orang di sana telah ditanyai, tapi tak seorang pun yang mengetahui ke mana raibnya. Masjid itu dia kelilingi. Setiap inci diperhatikan, siapa tahu sandal itu terselip atau terlempar jauh. Namun, segala upaya tak menghasilkan apa-apa, sandalnya raib digondol entah siapa.
Bagaimana dia akan melanjutkan perjalanan jauh tanpa alas kaki? Sementara itu, dia tak punya cukup uang untuk membeli sandal baru. Di zaman itu sandal adalah barang yang sangat mewah, hanya segelintir orang yang sanggup memilikinya.
Musafir malang itu menangis tersedu-sedu di pelataran masjid. Kesedihannya amat mendalam hingga tak malu meneteskan air mata di depan umum. Namun, tidak seorang pun datang menghiburnya, sekadar bertanya penyebab kesedihannya. Dia betul-betul sendirian menghadapi masalahnya.
Tangisannya terhenti saat sesosok istimewa melintas di hadapannya. orang itu tersenyum sangat indah hingga orang lain merasakan kedamaian. Senyuman itu bahkan menghentikan tangisan orang yang tengah bersedih. Hal yang mengagetkan, ternyata sosok yang menakjubkan itu tidak punya kaki sama sekali alias buntung. Musafir itu bergumam, “Dia yang kehilangan dua kaki saja masih bisa tersenyum bahagia. Dia bahagia dengan takdirnya. Sementara aku yang hanya kehilangan sandal malah berduka cita. Bukan cuma sandal yang hilang tapi juga kebahagiaanku.”
Istri itu menutup ceritanya dengan menyuguhkan segelas air putih. Suaminya berujar, “Ya, harusnya aku bersyukur cuma helm yang hilang, bukan kepalaku.”
“Apa yang di sisi kalian pasti akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah pasti kekal.” (An-Nahl: 96)
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)
--------------------
KISAH INSPIRATIF
FLORIDA -- Sungguh tidak pantas ditiru ulah seorang ibu yang satu ini. Crystal Ricci (32 tahun) meninggalkan bayinya yang baru lahir terikat di kursi tinggi di ruang makan. Setelah itu, ia keluar rumah untuk pergi minum. Menurut laporan Kantor Sheriff Palm Beach County, seperti dilansir Daily Mail, Selasa (22/1), Ricci meninggalkan bayinya yang berusia tiga pekan dengan popok yang kotor untuk pergi minum bersama temannya. Kejadian itu berlangsung Ahad pekan lalu di perumahan Lake Worth, Florida.
Untungnya, teman satu kamar Ricci terbangun setelah mendengar tangis bayi yang kencang. Saat itu waktu menunjukkan pukul 05.00. Si teman kemudian mengecek keadaan bayi. Namun, tidak menemukan ibunya. Ia kemudian berinisiatif menelepon polisi.
Mengutip dari laporan polisi, Ricci meninggalkan bayinya tanpa pengawasan, makanan, air atau pakaian bersih ketika ia keluar rumah dan berpesta. Teman satu kamarnya juga beberapa kali menghubungi telepon genggam Ricci. Ia juga terkejut saat mengetahui Ricci pergi dengan membawa mobilnya.
Beberapa saat kemudian, ia bersama petugas menemukan Ricci dalam keadaan pingsan di dalam mobil teman sekamarnya. Kepada polisi, Ricci mengaku mabuk dan tidak mampu menyetir hingga ke rumah.
Ricci dilepaskan dari tahanan Palm Beach County, Selasa dengan jaminan 3.000 dolar AS. Ia ditahan dengan tuduhan menelantarkan dan melakukan kekerasan terhadap anak. Kepada petugas Ricci mengatakan ia bermasalah dengan obat-obatan dan butuh bantuan.
Anak merupakan amanah yang dititipkan Allah pada mereka yang dipercaya untuk menjaganya, maka janganlah sia-siakan anak karena anak adalah titipan Allah yang kelak akan dipertanggungjawabkan dihadap-Nya. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk semua. aamiin
Sumber: republika.co.id
KISAH MENYENTUH DAN MENGHARUKAN
Di Perancis setelah mengambil barang belanjaan di supermarket, ukhti yang memakai Niqab (cadar) berdiri dalam antrean untuk membayar. Setelah beberapa menit, giliran datang di meja kasir.
Gadis petugas kasir adalah orang Arab yang tidak memakai Hijab (jilbab) dan seorang Muslim, mulai memindai item dari Ukhti Ber-Niqab satu per satu, dan setelah beberapa saatmenatapnya dengan arogan dan berkata: “Kami memiliki berbagai masalah di negeri ini & Niqab (cadar) Anda adalah salah satu dari mereka!
Kita adalah imigran, berada di sini untuk berdagang dan bukan untuk menunjukkan Dien (Agama) kita atau sejarah kita! Jika Anda ingin mempraktekkan agama Anda dan memakai Niqab maka kembalilah ke negara Arab dan melakukan apapun yang Anda inginkan!! “
Saudari ber-Niqab berhenti memasukkan belanjaan dia di kantong dan mengangkat Niqab dia …
Gadis petugas kasir benar-benar kaget.
Gadis ber-Niqab yang berambut pirang memiliki mata berwarna biru mengatakan: “Saya seorang gadis Perancis, bukan seorang imigran Arab. Ini adalah negara saya dan INI ADALAH ISLAM SAYA..
Anda yang lahir sebagai Muslim dan Anda menjual Dien (Agama) anda dan kami membelinya dari Anda! “
Subhanallah
KISAH NYATA
Ali bin Abi Thalib berkata:
Sesungguhnya aku melihat kepada besi, maka aku dapati dia adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, kemudian aku perhatikan api maka aku dapati dia melelehkan besi, aku berkata api adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, kemudian aku melihat kepada air, maka aku dapati dia memadamkan api, aku berkata air adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar,
kemudian aku melihat kepada awan, maka aku dapati dia membawa air, aku berkata awan adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, kemudian aku melihat kepada angin, maka aku dapati dia mengendalikan awan, aku berkata angin adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, kemudian aku melihat kepada gunung, aku dapati dia memalingkan angin, aku berkata angin adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar,
kemudian aku melihat kepada manusia, maka aku mendapatinya berdiri diatas gunung dan melubanginya, aku berkata manusia adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, kemudian aku melihat kepada apa yang membaringkan manusia, maka aku dapati dia adalah tidur, aku berkata tidur adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, kemudian aku dapati apa yang menghilangkan tidur, maka aku dapati dia adalah kesedihan dan kedukaan, aku berkata kesedihan dan kedukaan adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar,
kemudian aku perhatikan, maka aku temukan bahwasanya kedukaan dan kesedihan itu tempatnya dihati, aku katakan hati adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, dan aku temukan hati ini tidak tenang kecuali dengan dzikir kepada Allah Ta'ala, maka aku katakan tentara Allah Ta'ala yang paling besar adalah Dzikrullah.
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang dengan mengingat Allah Ta'ala, bukankah dengan mengingat Allah Ta'ala hati menjadi tenang”. Maka janganlah engkau melupakan dzikir kepada Allah Ta'ala.
Sesungguhnya aku melihat kepada besi, maka aku dapati dia adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, kemudian aku perhatikan api maka aku dapati dia melelehkan besi, aku berkata api adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, kemudian aku melihat kepada air, maka aku dapati dia memadamkan api, aku berkata air adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar,
kemudian aku melihat kepada awan, maka aku dapati dia membawa air, aku berkata awan adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, kemudian aku melihat kepada angin, maka aku dapati dia mengendalikan awan, aku berkata angin adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, kemudian aku melihat kepada gunung, aku dapati dia memalingkan angin, aku berkata angin adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar,
kemudian aku melihat kepada manusia, maka aku mendapatinya berdiri diatas gunung dan melubanginya, aku berkata manusia adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, kemudian aku melihat kepada apa yang membaringkan manusia, maka aku dapati dia adalah tidur, aku berkata tidur adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, kemudian aku dapati apa yang menghilangkan tidur, maka aku dapati dia adalah kesedihan dan kedukaan, aku berkata kesedihan dan kedukaan adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar,
kemudian aku perhatikan, maka aku temukan bahwasanya kedukaan dan kesedihan itu tempatnya dihati, aku katakan hati adalah tentara Allah Ta'ala yang paling besar, dan aku temukan hati ini tidak tenang kecuali dengan dzikir kepada Allah Ta'ala, maka aku katakan tentara Allah Ta'ala yang paling besar adalah Dzikrullah.
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka tenang dengan mengingat Allah Ta'ala, bukankah dengan mengingat Allah Ta'ala hati menjadi tenang”. Maka janganlah engkau melupakan dzikir kepada Allah Ta'ala.
KISAH UNTUK RENUNGAN DAN MOTIVASI
Terkadang terlintas juga di benak kita tentang
makhluk Allah selain manusia.akan kemanakah dan bagaimanakah nasib
mereka ketika kiamat datang menerpa ?
Apakah makhluk makhluk seperti binatang juga ada yang masuk surga..?
Subhanallah.
Ternyata ada 10 binatang yang akan masuk surga
Di antaranya
1. Untanya nabi shalih.
2.anak sapinya nabi Ibrahim
3.kambing Gibasnya Nabi Ismail
4.sapinya Nabi Musa
5.ikannya Nabi Yunus
6.khimarnya Nabi udzair
7.Semutnya Nabi Sulaiman
8.burung Hud-hudnya ratu bilqis
9.untanya nabi Muhammad sallallahu alaihiwasallam.
Dan
10.anjingnya Ashabul kahfi
Tetapi Allah menjadikan anjing itu dalam bentuk kambing gibas kemudian di masukannya ke dalam surga.
Subhanallah.
Binatang pun banyak yang masuk surga.
Namun apakah kita semua akan masuk surga.?
GABUNG YUK di FP Mutiara Air Mata Muslimah ada banyak kata HIKMAH, RENUNGAN dan MOTIVASI.
Apakah makhluk makhluk seperti binatang juga ada yang masuk surga..?
Subhanallah.
Ternyata ada 10 binatang yang akan masuk surga
Di antaranya
1. Untanya nabi shalih.
2.anak sapinya nabi Ibrahim
3.kambing Gibasnya Nabi Ismail
4.sapinya Nabi Musa
5.ikannya Nabi Yunus
6.khimarnya Nabi udzair
7.Semutnya Nabi Sulaiman
8.burung Hud-hudnya ratu bilqis
9.untanya nabi Muhammad sallallahu alaihiwasallam.
Dan
10.anjingnya Ashabul kahfi
Tetapi Allah menjadikan anjing itu dalam bentuk kambing gibas kemudian di masukannya ke dalam surga.
Subhanallah.
Binatang pun banyak yang masuk surga.
Namun apakah kita semua akan masuk surga.?
GABUNG YUK di FP Mutiara Air Mata Muslimah ada banyak kata HIKMAH, RENUNGAN dan MOTIVASI.
KISAH UNTUK RENUNGAN DAN MOTIVASI
Mari kita belajar dari sosok Nabi Sulaiman
SAW, satu-satunya di dunia ini yang diberikan tiga hal yang bahkan tidak
diberikan kepada Nabi Muhammad SAW. Tiga hal tersebut adalah :
Kekayaan, Kenabian dan Kekuasaan.
Namun tidak selamanya kehidupan beliau berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Ada satu episode kehidupan beliau yang bahkan dicatat dalam Al-Quran dan diperjelas dalam As-Sunnah, yang memberikan pelajaran bagi kita tentang sikap pertaubatan yang dahsyat.
Kisah ini termuat begitu lengkap dalam kitab hadits Bukhori dan Muslim, bagaimana suatu ketika Nabi Sulaiman begitu percaya diri mengumandangkan tekadnya : 'Aku akan menggilir Sembilan puluh Sembilan isteriku semalaman, yang kesemuanya akan melahirkan anak laki-laki yang berperang fii sabiilillah”.
Ia merindukan generasi yang hebat, maka sebuah tekad yang dahsyat pun dilantunkan. Hanya saja pada waktu itu beliau tidak menambahkan kalimat ‘insya Allah” –jika Allah SWT berkehendak-.
Seorang sahabat beliau telah mengingatkan : “ Ucapkan Insya Allah “. Namun beliau lalai dan tak hati-hati, terlupa nasehat sang sahabat dan langsung menjalankan apa yang ia tekadkan, menggilir istri-istrinya dalam satu malam.
Apa yang terjadi kemudian adalah episode keterpurukan dan ujian bagi nabi Sulaiman. Dari 99 istrinya tersebut, ternyata hanya seorang saja yang melahirkan bayi dan itupun dalam keadaan cacat, digambarkan dalam hadits sebagai “setengah manusia”. Maka orang-orang pun meletakkan bayi itu di atas kursi Sulaiman, dan melihat hal tersebut Nabi Sulaiman pun terpuruk, bersedih mengingat ucapannya terdahulu. Inilah yang digambarkan dalam surat Shod ayat 34 Allah SWT berfirman mengisahkan : “ Dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan dia (anaknya) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yg lemah cacat) kemudian ia (Sulaiman) bertaubat. Bahkan Rasulullah SAW pun menambahkan saat menceritakan kisah ini, sekiranya ia (Sulaiman) mengucapkan insya Allah, niscaya setiap istrinya hamil dan melahirkan seorang anak yang akan berjuang di jalan Allah.
Dalam semangat yang begitu hebat untuk melahirkan generasi pejuang, nabi Sulaiman lalai dan diingatkan oleh Allah SWT. Bagi sebagian orang ini adalah kelalaian yang sangat teknis dan sederhana, namun ternyata dibalik yang kecil itulah tersimpan cara dan hikmah Allah SWT menguji dan membesarkan nabi Sulaiman.
Apa yang terjadi setelahnya ? Nabi Sulaiman pun bertaubat, beliau meminta ampunan sekaligus penyesalan yang mendalam di hadapan Allah SWT. Namun itu tidak disertai kesedihan yang bertalu-talu, ataupun rasa putus asa yang menggurita dalam dada, justru sebaliknya Sulaiman tahu ia sedang diuji. Maka ia pun bertaubat dengan mengajukan permohonan yang lebih dahsyat dari yang ia capai sebelumnya. Sebuah istighfar segera disusul dengan proposal untuk mendapatkan kerajaan terbesar yang pernah dikenal dalam sejarah manusia. Dengan jelas lisan Sulaiman berujar : "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi“ (QS Shod 34-35)
Subhanallah. Taubat yang melahirkan semangat nan dahsyat. Dalam taubatnya nabi Sulaiman terus melanjutkan cita, bahkan ia mempunyai target yang lebih kuat, lebih besar, dari yang ia miliki sebelumnya. Sebuah kerajaan yang akan senantiasa dikenang dalam sejarah tentang kebesaran dan kekuasaannya. Maka Allah SWT pun memberikan kepada Sulaiman apa yang ia cita-citakan. Angin pun dalam genggaman, para jin tunduk dihadapan, bahkan penguasa-penguasa negeri lain siap bergabung dalam keislaman.
Pelajaran besar terpatri dalam hati, mari kita bertaubat layaknya Nabi Sulaiman. Sebuah pertaubatan yang akan menjadi hentakan sejarah, untuk mencapai kemenangan dan kejayaan jauh lebih besar dari yang kita capai pada hari ini.
Semoga bermanfaat dan salam optimis.
--
(Hatta Syamsuddin)
Ikuti updte KKH dengan Follow : @Kata2Hikmah_OFA
Namun tidak selamanya kehidupan beliau berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Ada satu episode kehidupan beliau yang bahkan dicatat dalam Al-Quran dan diperjelas dalam As-Sunnah, yang memberikan pelajaran bagi kita tentang sikap pertaubatan yang dahsyat.
Kisah ini termuat begitu lengkap dalam kitab hadits Bukhori dan Muslim, bagaimana suatu ketika Nabi Sulaiman begitu percaya diri mengumandangkan tekadnya : 'Aku akan menggilir Sembilan puluh Sembilan isteriku semalaman, yang kesemuanya akan melahirkan anak laki-laki yang berperang fii sabiilillah”.
Ia merindukan generasi yang hebat, maka sebuah tekad yang dahsyat pun dilantunkan. Hanya saja pada waktu itu beliau tidak menambahkan kalimat ‘insya Allah” –jika Allah SWT berkehendak-.
Seorang sahabat beliau telah mengingatkan : “ Ucapkan Insya Allah “. Namun beliau lalai dan tak hati-hati, terlupa nasehat sang sahabat dan langsung menjalankan apa yang ia tekadkan, menggilir istri-istrinya dalam satu malam.
Apa yang terjadi kemudian adalah episode keterpurukan dan ujian bagi nabi Sulaiman. Dari 99 istrinya tersebut, ternyata hanya seorang saja yang melahirkan bayi dan itupun dalam keadaan cacat, digambarkan dalam hadits sebagai “setengah manusia”. Maka orang-orang pun meletakkan bayi itu di atas kursi Sulaiman, dan melihat hal tersebut Nabi Sulaiman pun terpuruk, bersedih mengingat ucapannya terdahulu. Inilah yang digambarkan dalam surat Shod ayat 34 Allah SWT berfirman mengisahkan : “ Dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan dia (anaknya) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yg lemah cacat) kemudian ia (Sulaiman) bertaubat. Bahkan Rasulullah SAW pun menambahkan saat menceritakan kisah ini, sekiranya ia (Sulaiman) mengucapkan insya Allah, niscaya setiap istrinya hamil dan melahirkan seorang anak yang akan berjuang di jalan Allah.
Dalam semangat yang begitu hebat untuk melahirkan generasi pejuang, nabi Sulaiman lalai dan diingatkan oleh Allah SWT. Bagi sebagian orang ini adalah kelalaian yang sangat teknis dan sederhana, namun ternyata dibalik yang kecil itulah tersimpan cara dan hikmah Allah SWT menguji dan membesarkan nabi Sulaiman.
Apa yang terjadi setelahnya ? Nabi Sulaiman pun bertaubat, beliau meminta ampunan sekaligus penyesalan yang mendalam di hadapan Allah SWT. Namun itu tidak disertai kesedihan yang bertalu-talu, ataupun rasa putus asa yang menggurita dalam dada, justru sebaliknya Sulaiman tahu ia sedang diuji. Maka ia pun bertaubat dengan mengajukan permohonan yang lebih dahsyat dari yang ia capai sebelumnya. Sebuah istighfar segera disusul dengan proposal untuk mendapatkan kerajaan terbesar yang pernah dikenal dalam sejarah manusia. Dengan jelas lisan Sulaiman berujar : "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi“ (QS Shod 34-35)
Subhanallah. Taubat yang melahirkan semangat nan dahsyat. Dalam taubatnya nabi Sulaiman terus melanjutkan cita, bahkan ia mempunyai target yang lebih kuat, lebih besar, dari yang ia miliki sebelumnya. Sebuah kerajaan yang akan senantiasa dikenang dalam sejarah tentang kebesaran dan kekuasaannya. Maka Allah SWT pun memberikan kepada Sulaiman apa yang ia cita-citakan. Angin pun dalam genggaman, para jin tunduk dihadapan, bahkan penguasa-penguasa negeri lain siap bergabung dalam keislaman.
Pelajaran besar terpatri dalam hati, mari kita bertaubat layaknya Nabi Sulaiman. Sebuah pertaubatan yang akan menjadi hentakan sejarah, untuk mencapai kemenangan dan kejayaan jauh lebih besar dari yang kita capai pada hari ini.
Semoga bermanfaat dan salam optimis.
--
(Hatta Syamsuddin)
Ikuti updte KKH dengan Follow : @Kata2Hikmah_OFA
KISAH NYATA
Anda seorang wanita yang telah memiliki suami atau yang lagi ingin menikah, pastilah menginginkan keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Sebagai wanita pastilah ingin sekali membahagiakan suami, tapi justru kadang percekcokan yang terjadi yang pada akhirnya menjurus keperceraian, pastilah itu tidak diinginkan oleh semua wanita, karena salah satu kunci keluarga sakinah adalah
adanya cinta dan kasih sayang suami dan istri yang dibangun di atas
spirit saling membahagiakan. Di bawah ini adalah 17 tips bagi istri agar
bisa membahagiakan suami. Tips ini merupakan ringkasan dari buku How to
Make Your Husband Happy, karya Syaikh Muhammad Abdul Halim Hamid.
1. Sambutan yang manis
Sekembalinya suami dari bekerja, dinas luar kota, bepergian, atau kemana pun dia pergi, sambutlah dia dengan baik.
Temui dia dengan wajah riang gembira.
Bersolek dan pakailah wewangian.
Kabarilah dia dengan kabar-kabar baik yang menggembirakan. Tahan diri Anda untuk menyampaikan berita-berita buruk, setidaknya sampai dia telah beristirahat dengan cukup.
Berusaha keraslah untuk menyajikan makanan-makanan bermutu, dan sajikanlah selalu tepat waktu.
2. Percantiklah dirimu dan rendahkan suaramu
Usahakan agar Anda selalu tampil cantik dan merendahkan suara di hadapannya. Lakukanlah hal itu hanya untuk suami Anda, dan jangan menampakkan kecantikan Anda di hadapan laki-laki yang bukan mahram (laki-laki yang layak untuk engkau nikahi jika engkau belum menikah).
3. Senantiasa tampil mewangi dan selalu cantik
Rawatlah dengan baik tubuh dan kebugaran jasmani Anda.
Kenakanlah pakaian-pakaian yang menarik dan pakailah parfum yang aromanya disukai suami Anda.
Mandilah secara teratur. Apabila telah bersih dari haid, bersihkanlah setiap bekas darah atau bau tak sedap.
Gunakanlah jenis parfum, warna-warna, dan pakaian yang disenangi suami Anda.
Ubahlah gaya rambut, parfum, dan lainnya dari waktu ke waktu untuk menghindari kejenuhan.
Bagaimanapun, semua hal di atas harus dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan, dan tentu saja, jangan melakukannya di hadapan laki-laki dan wanita yang bukan mahram.
…semua hal di atas harus dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan, dan tentu saja, jangan melakukannya di hadapan laki-laki dan wanita yang bukan mahram…
4. Ketika melakukan hubungan intim.
Bergegaslah untuk melakoni hubungan intim ketika suami Anda merasa sangat berhasrat untuk melakukannya.
Jagalah kebersihan tubuh dan senantiasa tampil harum semaksimal mungkin. Pun demikian, jangan lupa untuk membersihkan setiap cairan yang keluar selama berhubungan intim.
Lontarkan ungkapan-ungkapan cinta yang mesra kepada suami Anda.
Biarkan suami Anda untuk memuaskan gairahnya.
Pilihkan waktu yang sesuai dan kesempatan yang baik untuk memuaskan suami. Beri dia stimulus untuk berhubungan intim sepulangnya dia dari perjalanan jauh yang memakan waktu lama.
5. Merasa puas dengan apa yang telah Allah berikan melalui suami.
Anda jangan pernah merasa depresi hanya karena suami Anda miskin atau memiliki pekerjaan dan karir yang biasa-biasa saja. Selama Anda dan suami dekat Allah –Sang Pemberi rezeki—, maka Dia pun akan menggelontorkan rezeki dan karunianya.
Anda mesti melihat orang-orang sekeliling yang miskin, sakit, cacat, dan lainnya. Lantas bandingkan dengan semua yang telah Allah karuniai kepada Anda dan keluarga.
Ingatlah selalu bahwa kekayaan sejati terletak pada tingginya keimanan dan keshalihan. Dua hal itu merupakan investasi terbaik untuk menjalani kehidupan yang kekal kelak.
…jangan pernah merasa depresi hanya karena suami Anda miskin atau memiliki pekerjaan yang biasa-biasa saja. Selama Anda dan suami dekat Allah Sang Pemberi rezeki, maka Dia pun akan menggelontorkan rezeki dan karunianya…
6. Jangan pusing dengan hal-hal keduniaan.
Jangan menjadikan hal-hal duniawi sebagai harapan dan minat Anda.
Anda tak perlu banyak memohon kepada suami Anda hal-hal yang tidak penting.
Kendati demikian, hidup zuhud bukan berarti tidak boleh menikmati hal-hal yang baik dan dibolehkan (baca: dihalalkan) syariat Islam. Namun pastinya, Anda harus memprioritaskan kehidupan akhirat kelak, dan memanfaatkan semua sarana dan faktor-faktor yang dapat memberikan keuntungan di surga.
Doronglah suami Anda untuk meminimalkan pengeluaran untuk hal-hal tidak penting, dan doronglah dia untuk menabung agar bisa memberi sedekah dan zakat kepada orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan.
7. Bersyukur dan memberikan apresiasi.
Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, mayoritas penghuni neraka adalah wanita, dikarenakan mereka tidak bersyukur.
Hasil dari rasa bersyukur adalah suami Anda akan lebih mencintai Anda, dan dia akan berupaya keras untuk membahagiakan Anda dengan beragam cara.
Sementara dampak dari tidak bersyukur adalah suami Anda akan kecewa, lantas mulai bertanya, “Mengapa saya harus berbuat baik kepada istri saya, sementara dia tidak pernah bersyukur dan hormat?!”
8. Kesetiaan dan ketaatan.
Bersikap setia terutama ketika suami didera musibah yang menimpa raga atau pekerjaannya, semisal kecelakaan atau kebangkrutan.
Dukunglah suami Anda dengan apa pun yang Anda miliki (baik materi ataupun non-materi).
…Bersikap setia terutama ketika suami didera musibah yang menimpa raga atau pekerjaannya, semisal kecelakaan atau kebangkrutan…
9. Memenuhi permintaan suami.
Penuhilah permintaan suami dan taatilah semua permintaan-permintaannya, jika memang tidak menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Dalam Islam, suami adalah pemimpin keluarga, dan istri adalah penyokong dan konsultan baginya.
10. Jika suami marah, buatlah dirinya merasa lega.
Hindari dan jauhi hal-hal yang bisa membuat marahnya berkepanjangan. Namun jika ternyata marahnya berkepanjangan, dan Anda tidak bisa ‘menjinakkannya’, maka cobalah untuk menenangkannya dengan langkah-langkah berikut:
Jika Anda bersalah dan melakukan kekeliruan, maka mintalah maaf kepadanya.
Namun jika dia yang melakukan kesalahan, maka Anda harus tetap bersikap tenang, jangan mengkritiknya dengan pedas, mendebat, menentang, atau bahkan berteriak. Tunggulah sampai kemarahannya mereda, lalu diskusikan segala sesuatunya secara damai.
Kemudian jika dia marah dikarenakan faktor-faktor eksternal, maka ada baiknya Anda diam, sampai kemarahannya sirna. Lalu tanyakan kepadanya apa yang membuatnya marah; apakah kelelahan, problem di kantor, ada orang yang menghinanya, dan lain sebagainya. Dan jangan banyak bertanya, namun fokus pada apa-apa yang membuatnya marah. Anda bisa bertanya kepadanya, “Kamu harus memberitahu kepadaku apa yang terjadi?”, “Aku harus tahu apa yang membuatmu marah?”, atau “Kamu membunyikan sesuatu, dan aku punya hak untuk tahu apa itu”.
11. Menjaga diri ketika suami tidak ada.
Jagalah diri Anda dari segala hubungan yang diharamkan.
Jaga setiap rahasia-rahasia keluarga, terutama yang berkenaan dengan hubungan suami-istri.
Menjaga rumah dan merawat anak-anak.
Menjaga uang dan segala harta bendanya.
Jangan sekali-kali keluar rumah tanpa izin suami, dan tanpa mengenakan hijab (jilbab) yang rapih.
Tolak kehadiran orang-orang yang tidak disenangi suami, jangan biarkan mereka masuk ke dalam rumah ketika suami tidak ada.
Jangan biarkan laki-laki non-mahran berduaan dengan Anda di mana pun.
…Tolak kehadiran orang-orang yang tidak disenangi suami, jangan biarkan mereka masuk ke dalam rumah ketika suami tidak ada…
12. Tunjukkan rasa hormat kepada keluarga dan teman-temannya.
Anda harus menyambut dan bersikap baik kerabat dan teman-teman suami Anda, terutama kedua orangtuanya.
Sebisa mungkin Anda harus menghindari masalah dengan para kerabatnya.
Anda harus menghindari memojokkan suami Anda ke posisi di mana dia harus memilih antara ibu dan istrinya secara dilematis.
Tunjukkan keramahtamahan Anda kepada tamu-tamunya, dengan cara menyiapkan tempat yang menyenangkan kepada mereka untuk duduk, menyajikan makanan yang paling baik, menyambut istri-istri mereka, dan lain sebagainya.
Dorong suami Anda agar secara rutin bersilaturahim ke kerabat keluarganya, dan agar mereka mengunjungi rumah Anda.
Telponlah orangtua suami Anda, kakak-kakak dan adik-adiknya; kirimi mereka surat, beri mereka hadiah, bantu mereka ketika terkena musibah, dan lainnya.
13. Kecemburuan yang terpuji.
Kecemburuan merupakan indikasi cinta dan sayangnya seorang istri kepada suaminya, namun tetap harus dalam batas-batas koridor ajaran Islam. Dalam artian, Anda boleh saja cemburu, tapi jangan sampai kecemburuan Anda dibarengi dengan caci-maki atau ghibah kepada orang lain.
Jangan mengikuti atau menciptakan keraguan-keraguan tidak mendasar di dalam diri Anda terkait suami Anda.
…Kecemburuan merupakan indikasi cinta dan sayangnya seorang istri kepada suaminya, namun tetap harus dalam batas-batas koridor ajaran Islam…
14. Kesabaran dan dukungan emosional.
Bersabarlah ketika Anda dan suami menghadapi kemiskinan dan keadaan-keadaan yang menegangkan.
Bersabarlah ketika musibah atau malapetaka menimpa Anda, suami, anak-anak, kerabat, atau harta benda Anda, baik musibah penyakit, kecelakaan, kematian, dan lain-lain.
Bersabarlah ketika suami Anda menerima tantangan dan rintangan dalam berdakwah (seperti diintimidasi, disiksa, dipenjara, atau bahkan dibunuh). Dukung dan kuatkan selalu suami Anda agar senantiasa berada di atas rel ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan selalu ingatkan dia akan surga yang dijanjikan Allah bagi orang-orang bertauhid lurus.
Jika suami Anda memperlakukan Anda secara tidak baik, maka bersabarlah dan balaslah perlakuan buruknya dengan perlakuan baik.
15. Mendukung suami untuk taat kepada Allah, berdakwah, dan berjihad fi sabilillah.
Bekerjasamalah dengan suami Anda dan ingatkan dia untuk melaksanakan berbagai ibadah wajib dan sunnah.
Dorong suami Anda agar melaksanakan shalat tahajud.
Ajak dia untuk rutin membaca Al-Qur’an dan memahami makna serta tafsirnya.
Ajak suami Anda untuk mendengarkan ceramah-ceramah keislaman.
Ingatlah selalu Allah.
Pelajarilah hukum-hukum dan ajaran Islam untuk muslimah.
Dukunglah aktivitas suami dengan memberinya berbagai opini bijak, dan redakanlah rasa sakitnya.
Luangkanlah waktu Anda untuk melakukan dakwah bersama suami.
Beri motivasi suami Anda untuk pergi berjihad, jika memang diharuskan dan kondisi memungkinkan.
Ingatkan dia bahwa ketika dia berjihad, maka Anda dan anak-anak akan dijaga oleh Allah.
…Beri motivasi suami Anda untuk pergi berjihad, jika memang diharuskan dan kondisi memungkinkan. Ingatkan dia bahwa ketika dia berjihad, maka Anda dan anak-anak akan dijaga oleh Allah…
16. Merawat rumah dengan baik.
Upayakan agar rumah selalu bersih dan tertata dengan baik.
Ubahlah tata letak barang-barang di rumah Anda dari waktu ke waktu untuk menghindari kebosanan.
Pelajari semua skill pemeliharaan rumah.
Pelajari bagaimana merawat anak-anak secara baik berdasarkan ajaran Islam.
17. Mengatur keuangan keluarga.
Jangan membelanjakan uang suami Anda, bahkan untuk berderma sekalipun, tanpa meminta izin darinya.
Rawatlah rumah, kendaraan, dan barang-barang pribadi suami, ketika dia tidak ada di rumah.
…Upayakan agar anak-anak senantiasa ada dalam kondisi bersih, rapih, terawat, berpendidikan, berakhlak baik, dan lain sebagainya. Ajarkan kepada mereka prinsip-prinsip Islam yang luhur; ceritakan juga kisah-kisah para nabi, sahabat Rasul, serta orang-orang shaleh terdahulu…
1. Sambutan yang manis
Sekembalinya suami dari bekerja, dinas luar kota, bepergian, atau kemana pun dia pergi, sambutlah dia dengan baik.
Temui dia dengan wajah riang gembira.
Bersolek dan pakailah wewangian.
Kabarilah dia dengan kabar-kabar baik yang menggembirakan. Tahan diri Anda untuk menyampaikan berita-berita buruk, setidaknya sampai dia telah beristirahat dengan cukup.
Berusaha keraslah untuk menyajikan makanan-makanan bermutu, dan sajikanlah selalu tepat waktu.
2. Percantiklah dirimu dan rendahkan suaramu
Usahakan agar Anda selalu tampil cantik dan merendahkan suara di hadapannya. Lakukanlah hal itu hanya untuk suami Anda, dan jangan menampakkan kecantikan Anda di hadapan laki-laki yang bukan mahram (laki-laki yang layak untuk engkau nikahi jika engkau belum menikah).
3. Senantiasa tampil mewangi dan selalu cantik
Rawatlah dengan baik tubuh dan kebugaran jasmani Anda.
Kenakanlah pakaian-pakaian yang menarik dan pakailah parfum yang aromanya disukai suami Anda.
Mandilah secara teratur. Apabila telah bersih dari haid, bersihkanlah setiap bekas darah atau bau tak sedap.
Gunakanlah jenis parfum, warna-warna, dan pakaian yang disenangi suami Anda.
Ubahlah gaya rambut, parfum, dan lainnya dari waktu ke waktu untuk menghindari kejenuhan.
Bagaimanapun, semua hal di atas harus dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan, dan tentu saja, jangan melakukannya di hadapan laki-laki dan wanita yang bukan mahram.
…semua hal di atas harus dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan, dan tentu saja, jangan melakukannya di hadapan laki-laki dan wanita yang bukan mahram…
4. Ketika melakukan hubungan intim.
Bergegaslah untuk melakoni hubungan intim ketika suami Anda merasa sangat berhasrat untuk melakukannya.
Jagalah kebersihan tubuh dan senantiasa tampil harum semaksimal mungkin. Pun demikian, jangan lupa untuk membersihkan setiap cairan yang keluar selama berhubungan intim.
Lontarkan ungkapan-ungkapan cinta yang mesra kepada suami Anda.
Biarkan suami Anda untuk memuaskan gairahnya.
Pilihkan waktu yang sesuai dan kesempatan yang baik untuk memuaskan suami. Beri dia stimulus untuk berhubungan intim sepulangnya dia dari perjalanan jauh yang memakan waktu lama.
5. Merasa puas dengan apa yang telah Allah berikan melalui suami.
Anda jangan pernah merasa depresi hanya karena suami Anda miskin atau memiliki pekerjaan dan karir yang biasa-biasa saja. Selama Anda dan suami dekat Allah –Sang Pemberi rezeki—, maka Dia pun akan menggelontorkan rezeki dan karunianya.
Anda mesti melihat orang-orang sekeliling yang miskin, sakit, cacat, dan lainnya. Lantas bandingkan dengan semua yang telah Allah karuniai kepada Anda dan keluarga.
Ingatlah selalu bahwa kekayaan sejati terletak pada tingginya keimanan dan keshalihan. Dua hal itu merupakan investasi terbaik untuk menjalani kehidupan yang kekal kelak.
…jangan pernah merasa depresi hanya karena suami Anda miskin atau memiliki pekerjaan yang biasa-biasa saja. Selama Anda dan suami dekat Allah Sang Pemberi rezeki, maka Dia pun akan menggelontorkan rezeki dan karunianya…
6. Jangan pusing dengan hal-hal keduniaan.
Jangan menjadikan hal-hal duniawi sebagai harapan dan minat Anda.
Anda tak perlu banyak memohon kepada suami Anda hal-hal yang tidak penting.
Kendati demikian, hidup zuhud bukan berarti tidak boleh menikmati hal-hal yang baik dan dibolehkan (baca: dihalalkan) syariat Islam. Namun pastinya, Anda harus memprioritaskan kehidupan akhirat kelak, dan memanfaatkan semua sarana dan faktor-faktor yang dapat memberikan keuntungan di surga.
Doronglah suami Anda untuk meminimalkan pengeluaran untuk hal-hal tidak penting, dan doronglah dia untuk menabung agar bisa memberi sedekah dan zakat kepada orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan.
7. Bersyukur dan memberikan apresiasi.
Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, mayoritas penghuni neraka adalah wanita, dikarenakan mereka tidak bersyukur.
Hasil dari rasa bersyukur adalah suami Anda akan lebih mencintai Anda, dan dia akan berupaya keras untuk membahagiakan Anda dengan beragam cara.
Sementara dampak dari tidak bersyukur adalah suami Anda akan kecewa, lantas mulai bertanya, “Mengapa saya harus berbuat baik kepada istri saya, sementara dia tidak pernah bersyukur dan hormat?!”
8. Kesetiaan dan ketaatan.
Bersikap setia terutama ketika suami didera musibah yang menimpa raga atau pekerjaannya, semisal kecelakaan atau kebangkrutan.
Dukunglah suami Anda dengan apa pun yang Anda miliki (baik materi ataupun non-materi).
…Bersikap setia terutama ketika suami didera musibah yang menimpa raga atau pekerjaannya, semisal kecelakaan atau kebangkrutan…
9. Memenuhi permintaan suami.
Penuhilah permintaan suami dan taatilah semua permintaan-permintaannya, jika memang tidak menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Dalam Islam, suami adalah pemimpin keluarga, dan istri adalah penyokong dan konsultan baginya.
10. Jika suami marah, buatlah dirinya merasa lega.
Hindari dan jauhi hal-hal yang bisa membuat marahnya berkepanjangan. Namun jika ternyata marahnya berkepanjangan, dan Anda tidak bisa ‘menjinakkannya’, maka cobalah untuk menenangkannya dengan langkah-langkah berikut:
Jika Anda bersalah dan melakukan kekeliruan, maka mintalah maaf kepadanya.
Namun jika dia yang melakukan kesalahan, maka Anda harus tetap bersikap tenang, jangan mengkritiknya dengan pedas, mendebat, menentang, atau bahkan berteriak. Tunggulah sampai kemarahannya mereda, lalu diskusikan segala sesuatunya secara damai.
Kemudian jika dia marah dikarenakan faktor-faktor eksternal, maka ada baiknya Anda diam, sampai kemarahannya sirna. Lalu tanyakan kepadanya apa yang membuatnya marah; apakah kelelahan, problem di kantor, ada orang yang menghinanya, dan lain sebagainya. Dan jangan banyak bertanya, namun fokus pada apa-apa yang membuatnya marah. Anda bisa bertanya kepadanya, “Kamu harus memberitahu kepadaku apa yang terjadi?”, “Aku harus tahu apa yang membuatmu marah?”, atau “Kamu membunyikan sesuatu, dan aku punya hak untuk tahu apa itu”.
11. Menjaga diri ketika suami tidak ada.
Jagalah diri Anda dari segala hubungan yang diharamkan.
Jaga setiap rahasia-rahasia keluarga, terutama yang berkenaan dengan hubungan suami-istri.
Menjaga rumah dan merawat anak-anak.
Menjaga uang dan segala harta bendanya.
Jangan sekali-kali keluar rumah tanpa izin suami, dan tanpa mengenakan hijab (jilbab) yang rapih.
Tolak kehadiran orang-orang yang tidak disenangi suami, jangan biarkan mereka masuk ke dalam rumah ketika suami tidak ada.
Jangan biarkan laki-laki non-mahran berduaan dengan Anda di mana pun.
…Tolak kehadiran orang-orang yang tidak disenangi suami, jangan biarkan mereka masuk ke dalam rumah ketika suami tidak ada…
12. Tunjukkan rasa hormat kepada keluarga dan teman-temannya.
Anda harus menyambut dan bersikap baik kerabat dan teman-teman suami Anda, terutama kedua orangtuanya.
Sebisa mungkin Anda harus menghindari masalah dengan para kerabatnya.
Anda harus menghindari memojokkan suami Anda ke posisi di mana dia harus memilih antara ibu dan istrinya secara dilematis.
Tunjukkan keramahtamahan Anda kepada tamu-tamunya, dengan cara menyiapkan tempat yang menyenangkan kepada mereka untuk duduk, menyajikan makanan yang paling baik, menyambut istri-istri mereka, dan lain sebagainya.
Dorong suami Anda agar secara rutin bersilaturahim ke kerabat keluarganya, dan agar mereka mengunjungi rumah Anda.
Telponlah orangtua suami Anda, kakak-kakak dan adik-adiknya; kirimi mereka surat, beri mereka hadiah, bantu mereka ketika terkena musibah, dan lainnya.
13. Kecemburuan yang terpuji.
Kecemburuan merupakan indikasi cinta dan sayangnya seorang istri kepada suaminya, namun tetap harus dalam batas-batas koridor ajaran Islam. Dalam artian, Anda boleh saja cemburu, tapi jangan sampai kecemburuan Anda dibarengi dengan caci-maki atau ghibah kepada orang lain.
Jangan mengikuti atau menciptakan keraguan-keraguan tidak mendasar di dalam diri Anda terkait suami Anda.
…Kecemburuan merupakan indikasi cinta dan sayangnya seorang istri kepada suaminya, namun tetap harus dalam batas-batas koridor ajaran Islam…
14. Kesabaran dan dukungan emosional.
Bersabarlah ketika Anda dan suami menghadapi kemiskinan dan keadaan-keadaan yang menegangkan.
Bersabarlah ketika musibah atau malapetaka menimpa Anda, suami, anak-anak, kerabat, atau harta benda Anda, baik musibah penyakit, kecelakaan, kematian, dan lain-lain.
Bersabarlah ketika suami Anda menerima tantangan dan rintangan dalam berdakwah (seperti diintimidasi, disiksa, dipenjara, atau bahkan dibunuh). Dukung dan kuatkan selalu suami Anda agar senantiasa berada di atas rel ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan selalu ingatkan dia akan surga yang dijanjikan Allah bagi orang-orang bertauhid lurus.
Jika suami Anda memperlakukan Anda secara tidak baik, maka bersabarlah dan balaslah perlakuan buruknya dengan perlakuan baik.
15. Mendukung suami untuk taat kepada Allah, berdakwah, dan berjihad fi sabilillah.
Bekerjasamalah dengan suami Anda dan ingatkan dia untuk melaksanakan berbagai ibadah wajib dan sunnah.
Dorong suami Anda agar melaksanakan shalat tahajud.
Ajak dia untuk rutin membaca Al-Qur’an dan memahami makna serta tafsirnya.
Ajak suami Anda untuk mendengarkan ceramah-ceramah keislaman.
Ingatlah selalu Allah.
Pelajarilah hukum-hukum dan ajaran Islam untuk muslimah.
Dukunglah aktivitas suami dengan memberinya berbagai opini bijak, dan redakanlah rasa sakitnya.
Luangkanlah waktu Anda untuk melakukan dakwah bersama suami.
Beri motivasi suami Anda untuk pergi berjihad, jika memang diharuskan dan kondisi memungkinkan.
Ingatkan dia bahwa ketika dia berjihad, maka Anda dan anak-anak akan dijaga oleh Allah.
…Beri motivasi suami Anda untuk pergi berjihad, jika memang diharuskan dan kondisi memungkinkan. Ingatkan dia bahwa ketika dia berjihad, maka Anda dan anak-anak akan dijaga oleh Allah…
16. Merawat rumah dengan baik.
Upayakan agar rumah selalu bersih dan tertata dengan baik.
Ubahlah tata letak barang-barang di rumah Anda dari waktu ke waktu untuk menghindari kebosanan.
Pelajari semua skill pemeliharaan rumah.
Pelajari bagaimana merawat anak-anak secara baik berdasarkan ajaran Islam.
17. Mengatur keuangan keluarga.
Jangan membelanjakan uang suami Anda, bahkan untuk berderma sekalipun, tanpa meminta izin darinya.
Rawatlah rumah, kendaraan, dan barang-barang pribadi suami, ketika dia tidak ada di rumah.
…Upayakan agar anak-anak senantiasa ada dalam kondisi bersih, rapih, terawat, berpendidikan, berakhlak baik, dan lain sebagainya. Ajarkan kepada mereka prinsip-prinsip Islam yang luhur; ceritakan juga kisah-kisah para nabi, sahabat Rasul, serta orang-orang shaleh terdahulu…
Semoga tips ini bermanfaat untuk semua wanita baik yang sudah menikah ataupun yang akan menikah.
TIPS-TIPS ISLAMI
Benarkah Khalifah Umar pernah gila. eeeiiittsss tapi tunggu dulu coba simak baik-baik kisah berikut ini, apakah benar beliau gila atau ada sesuatu yang tersembunyi, tidak usah lama-lama simak kisahnya
Diceritakan bahwa Khalifah Umar bin Khaththab
telah berubah ingatan. Banyak yang melihatnya dengan mata kepala
sendiri. Barangkali karena Umar di masa mudanya sarat dengan dosa,
seperti merampok, mabuk-mabukkan, malah suka mengamuk tanpa berperi
kemanusiaan, sampai orang tidak bersalah banyak yang menjadi korban. Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga ia ditimpa penyakit jiwa.
Dulu Umar sering menangis sendirian sesudah selesai menunaikan shalat. Dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, juga sendirian. Tidak ada orang lain yang membuatnya tertawa. Bukankah hal itu merupakan isyarat yang jelas bahwaUmar bin Kaththab sudah gila?
Abdurrahman bin Auf, sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab,merasa tersinggung dan sangat murung mendengar tuduhan itu. Apalagi, hampir semua rakyat Madinah telah sepakat menganggap Umar betul-betul sinting. Dan,sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.
Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan shalat Jum'at yang lalu,ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan khotbahnya,sekonyong-konyong Umar berseru, "Hai sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!"Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khotbah yang disampaikan. "Wah, khalifah kita benar-benar sudah gila," gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum shalat Jumat hari itu.
Tetapi Abdurrahman tidak mau bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya,"Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khotbah engkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?" Umar dengan tenang menjelaskan, "Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Suriah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhotbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit dibelakang mereka. Maka aku berseru: bukit itu,bukit itu, bukit itu!"
Setengah tidak percaya, Abdurrahman megerutkan kening. "Lalu, mengapa engkau dulu sering menangis dan tertawa sendirian selesai melaksanakan shalat fardhu?" tanya Abdurrahman pula. Umar menjawab, "Aku menangis kalau teringat kebiadabanku sebelum Islam. Aku pernah menguburkan anak perempuanku hidup-hidup. Dan aku tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubuat patung dari tepung gandum, dan kusembah-sembah seperti Tuhan."
Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar. Ia belum bisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi. Ataukah hal itu justru lebih membuktikan ketidakwarasannya sehingga jawabannya pun kacau balau? Masak ia dapat melihat pasukannya yang terpisah amat jauh dari masjid tempatnya berkhotbah?
Akhirnya,bukti itupun datang tanpa dimintanya. Yaitu manakala sariah yang kirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binar meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas-bekas luka yang diderita mereka. Mereka datang membawa kemenangan.
Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakat Madinah tentang dasyatnya peperangan yang dialami mereka. "Kami dikepung oleh tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat.Lawan secara beringas menghantam kami dari berbagai jurusan. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat shalat Jumat yang seharusnya kami kejakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuah seruan gaib yang tajam dan tegas: "Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Tigakali seruan tersebut diulang-diulang sehingga kami tahu maksudnya.Serta-merta kami pun mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapiserangn tentara lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kejayaan kami."
Abdurrahman mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Begitu pula masyarakat yang tadinya menuduh Umar telah berubah ingatan. Abdurrahman kemudian berkata, "Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahi adat. Sebab ia dapat melihat sesuatu yang indera kita tidak mampu melacaknya"
Sebuah Hadist, “Waspadalah terhadap firasat seorang mukmin. Sesungguhnya dia melihat dengan nur Allah.” (HR At-Tirmidzi dan Athabrani)
Sumber: Mohamad Zaka Al Farisi, “Like Father Like Son, Untaian Kisah-kisah Penuh Hikmah”, Bandung: MQ Gress, Cet. II, Maret 2008, hal. 183-187
Dulu Umar sering menangis sendirian sesudah selesai menunaikan shalat. Dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, juga sendirian. Tidak ada orang lain yang membuatnya tertawa. Bukankah hal itu merupakan isyarat yang jelas bahwaUmar bin Kaththab sudah gila?
Abdurrahman bin Auf, sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab,merasa tersinggung dan sangat murung mendengar tuduhan itu. Apalagi, hampir semua rakyat Madinah telah sepakat menganggap Umar betul-betul sinting. Dan,sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.
Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan shalat Jum'at yang lalu,ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan khotbahnya,sekonyong-konyong Umar berseru, "Hai sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!"Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dengan isi khotbah yang disampaikan. "Wah, khalifah kita benar-benar sudah gila," gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum shalat Jumat hari itu.
Tetapi Abdurrahman tidak mau bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya,"Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khotbah engkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?" Umar dengan tenang menjelaskan, "Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Suriah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhotbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankan diri adalah sebuah bukit dibelakang mereka. Maka aku berseru: bukit itu,bukit itu, bukit itu!"
Setengah tidak percaya, Abdurrahman megerutkan kening. "Lalu, mengapa engkau dulu sering menangis dan tertawa sendirian selesai melaksanakan shalat fardhu?" tanya Abdurrahman pula. Umar menjawab, "Aku menangis kalau teringat kebiadabanku sebelum Islam. Aku pernah menguburkan anak perempuanku hidup-hidup. Dan aku tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubuat patung dari tepung gandum, dan kusembah-sembah seperti Tuhan."
Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar. Ia belum bisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi. Ataukah hal itu justru lebih membuktikan ketidakwarasannya sehingga jawabannya pun kacau balau? Masak ia dapat melihat pasukannya yang terpisah amat jauh dari masjid tempatnya berkhotbah?
Akhirnya,bukti itupun datang tanpa dimintanya. Yaitu manakala sariah yang kirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binar meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas-bekas luka yang diderita mereka. Mereka datang membawa kemenangan.
Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakat Madinah tentang dasyatnya peperangan yang dialami mereka. "Kami dikepung oleh tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat.Lawan secara beringas menghantam kami dari berbagai jurusan. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat shalat Jumat yang seharusnya kami kejakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuah seruan gaib yang tajam dan tegas: "Bukit itu, bukit itu, bukit itu!" Tigakali seruan tersebut diulang-diulang sehingga kami tahu maksudnya.Serta-merta kami pun mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapiserangn tentara lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kejayaan kami."
Abdurrahman mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Begitu pula masyarakat yang tadinya menuduh Umar telah berubah ingatan. Abdurrahman kemudian berkata, "Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahi adat. Sebab ia dapat melihat sesuatu yang indera kita tidak mampu melacaknya"
Sebuah Hadist, “Waspadalah terhadap firasat seorang mukmin. Sesungguhnya dia melihat dengan nur Allah.” (HR At-Tirmidzi dan Athabrani)
Sumber: Mohamad Zaka Al Farisi, “Like Father Like Son, Untaian Kisah-kisah Penuh Hikmah”, Bandung: MQ Gress, Cet. II, Maret 2008, hal. 183-187
TOKOH INSPIRATIF ISLAM
Abu Hafsh sang pandai besi dari Nisyapur menunjukkan tanda-tanda anugerah yang aneh melalui kekuatan perhatiannya, dari awal ia menjadi murid. Ia diterima sebagai penganut Syeikh Bawardi, dan kembali ke bengkel melanjutkan kerjanya.
Ketika pikirannya terpusat, ia menarik sepotong besi membara dari tempaan dengan tangan telanjang. Kendati ia tidak merasa panas, pembantunya pingsan melihat pemandangan yang belum pernah terjadi ini.
Ketika ia menjadi Syekh Agung kaum Sufi di Khurasan, tercatat bahwa ia tidak berbicara bahasa Arab dan menggunakan penerjemah ketika berbicara dengan pengunjung Arab. Namun, ketika ia mengunjungi Sufi agung di Baghdad, ia berbicara dengan bahasa demikian bagus sehingga kemurnian bicaranya tidak tertandingi.
Ketika Syeikh Baghdad memintanya untuk mengatakan pada mereka arti kemurahan hati, ia menjawab, "Aku akan mendengar penjelasan yang lain lebih dulu."
Guru al-Junaid kemudian berkata, "Kemurahan hati adalah tidak menyamakan kemurahan hati dengan dirimu sendiri, dan tidak mempertimbangkannya."
Abu Hafsh berkomentar, "Perkataan Syekh sangat bagus. Tetapi aku merasa bahwa kemurahan hati berarti melakukan keadilan tanpa menghendaki keadilan."
Al-Junaid berkata pada yang lain, "Berdirilah kalian semua! Karena Abu Hafsh melebihi Adham dan seluruh bangsanya."
Abu Hafsh pernah berkata, "Aku meninggalkan kerja, dan kemudian kembali. Lalu kerja meninggalkanku, dan aku tidak pernah kembali." (Hujwiri: The Revelation of the Veiled)
http://www.republika.co.id/
KISAH INSPIRATIF
Kisah ini saya dapat dari sebuah postingan di FB saya. Dari judulnya ini jelas menceritakan bagaimana seorang sopir pribadi berkat kejujurannya mendapatkan limpahan rizki dari Allah SWT yang tak terkira. Dan untuk lebih jelasnya simak baik-baik kisah inspiratif dibawah ini
Bimillahi minal Awwali wal Akhiri ... “Dan
Allah telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah
karunia Allah sangat besar atasmu.” (An-Nisâ’ [4]: 113)
Saya mengenal sosok Syafe’i di sebuah masjid perkantoran di sekitar Jendral Sudirman, Jakarta, tempat saya sering bersilaturahmi. Ia adalah seorang yang rajin beribadah. Saya sering melihat Syafe’i selalu berada pada shaf pertama setiap kali shalat berjamaah. Ia adalah seorang muslim yang taat, setidaknya itulah sosok yang saya kenal dari diri Syafe’i.
Syafe’i adalah seorang driver yang bekerja lebih dan 20 tahun, ia membawa mobil seorang direktur utama sebuah perusahaan sekuritas di Jakarta. Hal yang membuat Syafe’i disukai dalam tugasnya, ia memiliki sifat yang jujur, tidak banyak bicara, dan loyal terhadap majikan. Amat sulit rasanya di zaman sekarang ini mencari seorang pegawai seperti Syafe’i yang setia mengemban tugas yang sama lebih dari 20 tahun. Hal yang menarik dari diri Syafe’i pun adalah sifat qanaah yang dimilikinya. “Gak ngoyo,”1 selalu merasa puas dengan anugerah yang Allah berikan untuk dirinya dan keluarga.
Inilah hakikat manusia yang kaya. Ia senantiasa merasa cukup atas karunia Allah Swt., tidak berharap lebih dari apa yang diberikan.
Pagi itu, Syafe’i hendak berangkat menuju rumah majikannya. Sebelum meninggalkan rumah, Syafe’i dilepas dengan sebuah keluhan yang meluncur dari mulut istrinya perihal biaya pendaftaran kuliah anak mereka sebesar Rp. 8 juta. Sang istri meminta Syafe’i untuk mencari dana sebesar itu, setidaknya dengan cara meminjam terlebih dahulu, kemudian dicicil dari penghasilan bulanan mereka yang pas-pasan.
“Pak, tolong pinjam dulu kepada majikanmu dana untuk anak kita kuliah!” Pinta istri Syafe’i. Namun, Syafe’i tidak menanggapi usulan istrinya sepatah kata pun. Ia sadar bahwa dana sebesar itu hanya akan membuat sulit hidupnya, karena harus mengangsur cicilan pinjaman. Apalagi bila dana itu dipinjam dari bosnya, pasti akan membuat hubungan menjadi tidak enak.
Syafe’i lebih memilih mengadukan urusannya ini kepada Allah SWT, daripada harus diceritakan kepada sesama.
Sejak saat itu, Syafe’i senantiasa memanjatkan doa kepada Allah Swt. karena hajat anaknya yang ingin kuliah, Kepasrahan diri kepada Allah Swt Merupakan jalan dalam menyelesaikan semua masalah.
“Tidak ada masalah yang besar, semuanya kecil di mata Allah!” Gumam Syafe’i membesarkan hati.
Adegan pagi itu sama seperti hari-hari sebelumnya dalam karier Syafe’i. Ia sedang memegang kemudi mobil, membawa majikannya ke kantor. Sang majikan membuka pembicaraan, “Syafe’i, nanti kalau sudah sampai ke kantor, kamu segera pergi ke Divisi General Affair (bagian umum) ya! Tanyakan kepada mereka, vendor dekorasi mana yang terbaik! Saya mau merenovasi rumah yang di Kebayoran. Bila bagian GA sudah memberi tahu nama vendornya, kamu segera kontak mereka dan ajak mereka untuk melihat rumahnya. Saya minta vendor itu untuk mengajukan biaya renovasinya. Kalau sudah direnovasi, saya mau menjual numah itu. Kamu paham gak?” Tanya sang majikan.
“Saya paham, Pak!” Sahut Syafe’i sigap.
Itulah awal terbukanya pintu ijabah dan keberkahan Allah Swt. bagi Syafe’i.
Syafe’i menuruti perintah atasannya. Ia mengontak vendor tersebut, kemudian mengajaknya untuk melihat rumah majikan yang ada di daerah Kebayoran. Usai melihat, mereka mengukur dan meninjau rumah, vendor itu pun berjanji akan mengajukan penawaran biaya renovasi dalam beberapa hari. Sesuai dengan yang dijanjikan, akhirnya pengajuan renovasi rumah itu mereka buat, dan dititipkan ke Syafe’i.
“Bos, ini pengajuan renovasi rumah Kebayoran dari vendor kemarin,” kata Syafe’i kepada majikannya sebelum masuk ke dalam mobil.
Majikannya membaca pengajuan anggaran renovasi di dalam mobil.
Baru beberapa menit membaca, sang majikan langsung berkomentar, “Kok mahal sekali ya, masa hanya renovasi rumah begitu saja sampai menghabiskan dana lebih dari Rp. 200 juta!”
Mendengar itu Syafe’i menimpal, “Wah, mahal betul ya Bos! Kalau Bos gak setuju dengan penawaran vendor itu, saya punya teman pemborong yang kerjanya bagus. Insya Allah, harga yang ditawarkan jauh lebih murah dari vendor tadi. Kalau masih ragu, Bos yang membeli semua materialnya, nanti hanya bayar jasa pengerjaan,” jelas Syafe’i.
Sang majikan sudah sangat mengenal sifat dan watak Syafe’i. Dua puluh tahun menjadi pekerjanya sebagai bukti kejujuran dan loyalitas yang sudah tidak lagi diragukan. Tanpa banyak komentar sang majikan meminta Syafe’i mengajak temannya yang pemborong itu untuk merenovasi rumah. Benar saja, renovasi rumah lewat pemborong teman akrab Syafe’i hanya memakan dana Rp. 60 juta!
Sang majikan senang karena supirnya telah membuat efisiensi pengeluaran tidak kurang dari 140 juta rupiah.
Kesenangan majikan itu terus berlanjut, yang kemudian mempercayakan Syafe’i untuk menjual langsung rumah yang baru direnovasi tadi.
Dalam perjalanan menuju kantor, sang majikan berkata kepada Syafe’i, “Usai mengantar saya, tolong kamu pergi ke biro iklan. Pasang iklan di media cetak mengenai penjualan rumah di Kebayoran. Kamu kan sudah tahu semua spesifikasi rumahnya, nanti contact person-nya atas nama kamu saja, Syafe’i! Terus jangan lupa untuk mencantumkan harga penjualan sebesar 2,3 milyar!!!” Jelas sang majikan kepada Syafe’i.
Syafe’i mengiyakan semua tutur majikannya. Seperti yang diminta sang majikan, usai mengantar ke kantor, Syafe’i pun pergi ke biro iklan.
Di biro iklan, Syafe’i mengisi formulir. Dalam lembar formulir itu, ia sebutkan semua spesifikasi rumah majikannya berikut seluruh fasilitasnya. Tak lupa, ia cantumkan nama dan nomor kontaknya sebagai contact person. Usai mengisi formulir iklan, maka lembar itu ia serahkan kepada petugas biro iklan. Petugas itu membacanya dan sejurus kemudian petugas itu bertanya kepada Syafe’i, “Pak, harga jualnya mau dicantumkan gak?”
“Oh iya, tolong cantumkan Mbak!” Sahut Syafe’i.
“Berapa harga yang diminta?” Kejar sang petugas.
Tiba-tiba saja Syafe’i memegang keningnya dengan telapak tangan, tidak hanya itu dia mengusap—usap rambut kepala bagian belakang seperti orang kepusingan. “Celaka, aku lupa berapa harga yang diminta majikan! 2,3 M atau 3,2 M ya?” Gumamnya.
Terus terang Syafe’i malu untuk menanyakan hal itu kepada majikannya. Nanti disangka ia teledor dalam bekerja. Lama Syafe’i mengambil keputusan. Bahkan, ia perlu keluar dari kantor biro iklan itu hanya untuk mondar-mandir memutuskan antara 2,3 atau 3,2 angka yang hendak dicantumkan.
Setelah beberapa lama menimbang dan berdoa, tiba-tiba Allah Swt. memberi ketenangan di hati Syafe’i untuk mengambil sebuah keputusan. “Aha, pasti 3,2 milyar!!! Lebih bagus 3,2 milyar dicantumkan daripada 2,3. Sebab, kalau betul angka yang diminta majikan adalah 3,2 M, sedangkan yang saya cantumkan 2,3 M., pasti tekor 900 juta. Siapa yang mau nombokin?!” Gumam Syafe’i.
Syafe’i pun masuk kembali ke kantor biro iklan sambil berujar, “Mbak, tolong cantumin harga jualnya sebesar 3,2 milyar!”
Usai membayar dan menerima struk iklan, Syafei pun kembali ke tempat kerja majikannya.
Keesokannya, iklan rumah terbit. Tak diduga, ternyata ada empat perusahaan yang mengontak Syafe’i di hari itu, suatu tanda ketertarikan mereka akan iklan rumah tersebut. Bahkan, PT. Djarum langsung menyatakan minatnya tanpa menawar sedikitpun.
Tentu saja ini adalah kabar gembira dari Syafe’i untuk majikannya.
“Hari ini Bos ada waktu gak ke notaris?! Alhamdulillah, rumah di Kebayoran ada yang berminat. PT. Djarum mau membeli rumah itu. Hebatnya, mereka gak pake nawar lagi,” kalimat Syafe’i membuka pembicaraan.
Sang majikan surprise mendengarnya, kemudian beliau bertanya kepada Syafe’i, “Memangnya berapa harga yang kamu tawarkan ke mereka?”
“Saya cuma kasih harga ke mereka seperti yang Bos minta!” Jelas Syafe’i.
“Iya, saya tahu, tapi berapa harga yang kamu lepas, Syafe’i?!” Tanya sang majikan sekali lagi.
“Mereka saya tawarin harga 3,2 milyar!” Imbuh Syafe’i.
Degg! Sang majikan kaget mendengar harga yang ditawarkan Syafe’i kepada pembeli. Padahal kemarin harga yang dia minta hanya 2,3 milyar, bukannya 3,2 milyar. Seolah tidak percaya, sang majikan langsung menyediakan waktu untuk bertemu calon pembeli di notaris hari itu.
Betul saja, rumah itu laku terjual dengan nilai 3,2 milyar rupiah.
Subhanallah, Syafe’i sudah memberi keuntungan kepada majikannya sebanyak Rp. 900 juta!!! Belum lagi efisiensi biaya renovasi rumah yang tidak kurang dari 140 juta rupiah.
Sang majikan mengulum senyum tanda puas atas dedikasi Syafe’i. Usai dari kantor notaris, di dalam mobil sang majikan berkata, “Nanti, sampai di kantor bilang kepada sekretaris saya, bahwa kamu disuruh saya untuk membuat paspor ya! Gak usah pake nanya macam-macam, pokoknya kamu bikin paspor, Syafe’i!” Tegas majikannya.
Syafe’i hanya menuruti perintah majikannya. Belakangan ia tahu bahwa ia mau diajak umrah sama majikannya sebagai syukuran atas penjualan rumah. Syafe’i mensyukuri karunia Allah Swt. yang tak terduga ini.
Beberapa hari lagi menjelang umrah, sang majikan berkata kepada Syafe’i dalam perjalanan pulang menuju rumah majikannya. “Syafe’i, kita kan mau pergi ibadah umrah meninggalkan keluarga. Pantang bagi kita sebagai laki-laki, kalau pergi jauh ninggalin rumah tapi tidak menyisakan bekal yang cukup buat keluarga yang ditinggal. Ini kebetulan ada rezeki. Jangan dilihat besar-kecilnya. Salam saya buat istri dan anak-anakmu!”
Syafe’i menerima sebuah amplop putih cukup tebal dari majikannya. Ia berucap hamdalah dan berterima kasih atas pemberian itu. Usai mengantar majikan pulang, Syafe’i pun kembali pulang menuju rumahnya.
Ia sampai di rumah. Amplop putih titipan majikan ia berikan kepada istrinya. Betapa terkejut sang istri begitu menghitung uang yang diberikan. Jumlah yang cukup banyak untuk sebuah keluarga supir seperti Syafe’i. Uang yang berada di amplop tersebut ternyata berjumlah 8 juta rupiah!!!
Subhanallah, angka tersebut sama seperti kebutuhan keluarga Syafe’i untuk biaya daftar anaknya kuliah. Namun yang lebih hebatnya lagi, Allah Swt. malah mengundang Syafe’i untuk berangkat umrah menuju rumah-Nya lewat cara yang tidak pernah ia duga.
Sungguh Allah maha tahu kebutuhan hamba-Nya, bahkan seringkali anugerah-Nya jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan!
“Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Ali Imran [3]:171)
"Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke sorga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan akan membewa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta" (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud)
Wallahu a'lam bishshawab, ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...
Saya mengenal sosok Syafe’i di sebuah masjid perkantoran di sekitar Jendral Sudirman, Jakarta, tempat saya sering bersilaturahmi. Ia adalah seorang yang rajin beribadah. Saya sering melihat Syafe’i selalu berada pada shaf pertama setiap kali shalat berjamaah. Ia adalah seorang muslim yang taat, setidaknya itulah sosok yang saya kenal dari diri Syafe’i.
Syafe’i adalah seorang driver yang bekerja lebih dan 20 tahun, ia membawa mobil seorang direktur utama sebuah perusahaan sekuritas di Jakarta. Hal yang membuat Syafe’i disukai dalam tugasnya, ia memiliki sifat yang jujur, tidak banyak bicara, dan loyal terhadap majikan. Amat sulit rasanya di zaman sekarang ini mencari seorang pegawai seperti Syafe’i yang setia mengemban tugas yang sama lebih dari 20 tahun. Hal yang menarik dari diri Syafe’i pun adalah sifat qanaah yang dimilikinya. “Gak ngoyo,”1 selalu merasa puas dengan anugerah yang Allah berikan untuk dirinya dan keluarga.
Inilah hakikat manusia yang kaya. Ia senantiasa merasa cukup atas karunia Allah Swt., tidak berharap lebih dari apa yang diberikan.
Pagi itu, Syafe’i hendak berangkat menuju rumah majikannya. Sebelum meninggalkan rumah, Syafe’i dilepas dengan sebuah keluhan yang meluncur dari mulut istrinya perihal biaya pendaftaran kuliah anak mereka sebesar Rp. 8 juta. Sang istri meminta Syafe’i untuk mencari dana sebesar itu, setidaknya dengan cara meminjam terlebih dahulu, kemudian dicicil dari penghasilan bulanan mereka yang pas-pasan.
“Pak, tolong pinjam dulu kepada majikanmu dana untuk anak kita kuliah!” Pinta istri Syafe’i. Namun, Syafe’i tidak menanggapi usulan istrinya sepatah kata pun. Ia sadar bahwa dana sebesar itu hanya akan membuat sulit hidupnya, karena harus mengangsur cicilan pinjaman. Apalagi bila dana itu dipinjam dari bosnya, pasti akan membuat hubungan menjadi tidak enak.
Syafe’i lebih memilih mengadukan urusannya ini kepada Allah SWT, daripada harus diceritakan kepada sesama.
Sejak saat itu, Syafe’i senantiasa memanjatkan doa kepada Allah Swt. karena hajat anaknya yang ingin kuliah, Kepasrahan diri kepada Allah Swt Merupakan jalan dalam menyelesaikan semua masalah.
“Tidak ada masalah yang besar, semuanya kecil di mata Allah!” Gumam Syafe’i membesarkan hati.
Adegan pagi itu sama seperti hari-hari sebelumnya dalam karier Syafe’i. Ia sedang memegang kemudi mobil, membawa majikannya ke kantor. Sang majikan membuka pembicaraan, “Syafe’i, nanti kalau sudah sampai ke kantor, kamu segera pergi ke Divisi General Affair (bagian umum) ya! Tanyakan kepada mereka, vendor dekorasi mana yang terbaik! Saya mau merenovasi rumah yang di Kebayoran. Bila bagian GA sudah memberi tahu nama vendornya, kamu segera kontak mereka dan ajak mereka untuk melihat rumahnya. Saya minta vendor itu untuk mengajukan biaya renovasinya. Kalau sudah direnovasi, saya mau menjual numah itu. Kamu paham gak?” Tanya sang majikan.
“Saya paham, Pak!” Sahut Syafe’i sigap.
Itulah awal terbukanya pintu ijabah dan keberkahan Allah Swt. bagi Syafe’i.
Syafe’i menuruti perintah atasannya. Ia mengontak vendor tersebut, kemudian mengajaknya untuk melihat rumah majikan yang ada di daerah Kebayoran. Usai melihat, mereka mengukur dan meninjau rumah, vendor itu pun berjanji akan mengajukan penawaran biaya renovasi dalam beberapa hari. Sesuai dengan yang dijanjikan, akhirnya pengajuan renovasi rumah itu mereka buat, dan dititipkan ke Syafe’i.
“Bos, ini pengajuan renovasi rumah Kebayoran dari vendor kemarin,” kata Syafe’i kepada majikannya sebelum masuk ke dalam mobil.
Majikannya membaca pengajuan anggaran renovasi di dalam mobil.
Baru beberapa menit membaca, sang majikan langsung berkomentar, “Kok mahal sekali ya, masa hanya renovasi rumah begitu saja sampai menghabiskan dana lebih dari Rp. 200 juta!”
Mendengar itu Syafe’i menimpal, “Wah, mahal betul ya Bos! Kalau Bos gak setuju dengan penawaran vendor itu, saya punya teman pemborong yang kerjanya bagus. Insya Allah, harga yang ditawarkan jauh lebih murah dari vendor tadi. Kalau masih ragu, Bos yang membeli semua materialnya, nanti hanya bayar jasa pengerjaan,” jelas Syafe’i.
Sang majikan sudah sangat mengenal sifat dan watak Syafe’i. Dua puluh tahun menjadi pekerjanya sebagai bukti kejujuran dan loyalitas yang sudah tidak lagi diragukan. Tanpa banyak komentar sang majikan meminta Syafe’i mengajak temannya yang pemborong itu untuk merenovasi rumah. Benar saja, renovasi rumah lewat pemborong teman akrab Syafe’i hanya memakan dana Rp. 60 juta!
Sang majikan senang karena supirnya telah membuat efisiensi pengeluaran tidak kurang dari 140 juta rupiah.
Kesenangan majikan itu terus berlanjut, yang kemudian mempercayakan Syafe’i untuk menjual langsung rumah yang baru direnovasi tadi.
Dalam perjalanan menuju kantor, sang majikan berkata kepada Syafe’i, “Usai mengantar saya, tolong kamu pergi ke biro iklan. Pasang iklan di media cetak mengenai penjualan rumah di Kebayoran. Kamu kan sudah tahu semua spesifikasi rumahnya, nanti contact person-nya atas nama kamu saja, Syafe’i! Terus jangan lupa untuk mencantumkan harga penjualan sebesar 2,3 milyar!!!” Jelas sang majikan kepada Syafe’i.
Syafe’i mengiyakan semua tutur majikannya. Seperti yang diminta sang majikan, usai mengantar ke kantor, Syafe’i pun pergi ke biro iklan.
Di biro iklan, Syafe’i mengisi formulir. Dalam lembar formulir itu, ia sebutkan semua spesifikasi rumah majikannya berikut seluruh fasilitasnya. Tak lupa, ia cantumkan nama dan nomor kontaknya sebagai contact person. Usai mengisi formulir iklan, maka lembar itu ia serahkan kepada petugas biro iklan. Petugas itu membacanya dan sejurus kemudian petugas itu bertanya kepada Syafe’i, “Pak, harga jualnya mau dicantumkan gak?”
“Oh iya, tolong cantumkan Mbak!” Sahut Syafe’i.
“Berapa harga yang diminta?” Kejar sang petugas.
Tiba-tiba saja Syafe’i memegang keningnya dengan telapak tangan, tidak hanya itu dia mengusap—usap rambut kepala bagian belakang seperti orang kepusingan. “Celaka, aku lupa berapa harga yang diminta majikan! 2,3 M atau 3,2 M ya?” Gumamnya.
Terus terang Syafe’i malu untuk menanyakan hal itu kepada majikannya. Nanti disangka ia teledor dalam bekerja. Lama Syafe’i mengambil keputusan. Bahkan, ia perlu keluar dari kantor biro iklan itu hanya untuk mondar-mandir memutuskan antara 2,3 atau 3,2 angka yang hendak dicantumkan.
Setelah beberapa lama menimbang dan berdoa, tiba-tiba Allah Swt. memberi ketenangan di hati Syafe’i untuk mengambil sebuah keputusan. “Aha, pasti 3,2 milyar!!! Lebih bagus 3,2 milyar dicantumkan daripada 2,3. Sebab, kalau betul angka yang diminta majikan adalah 3,2 M, sedangkan yang saya cantumkan 2,3 M., pasti tekor 900 juta. Siapa yang mau nombokin?!” Gumam Syafe’i.
Syafe’i pun masuk kembali ke kantor biro iklan sambil berujar, “Mbak, tolong cantumin harga jualnya sebesar 3,2 milyar!”
Usai membayar dan menerima struk iklan, Syafei pun kembali ke tempat kerja majikannya.
Keesokannya, iklan rumah terbit. Tak diduga, ternyata ada empat perusahaan yang mengontak Syafe’i di hari itu, suatu tanda ketertarikan mereka akan iklan rumah tersebut. Bahkan, PT. Djarum langsung menyatakan minatnya tanpa menawar sedikitpun.
Tentu saja ini adalah kabar gembira dari Syafe’i untuk majikannya.
“Hari ini Bos ada waktu gak ke notaris?! Alhamdulillah, rumah di Kebayoran ada yang berminat. PT. Djarum mau membeli rumah itu. Hebatnya, mereka gak pake nawar lagi,” kalimat Syafe’i membuka pembicaraan.
Sang majikan surprise mendengarnya, kemudian beliau bertanya kepada Syafe’i, “Memangnya berapa harga yang kamu tawarkan ke mereka?”
“Saya cuma kasih harga ke mereka seperti yang Bos minta!” Jelas Syafe’i.
“Iya, saya tahu, tapi berapa harga yang kamu lepas, Syafe’i?!” Tanya sang majikan sekali lagi.
“Mereka saya tawarin harga 3,2 milyar!” Imbuh Syafe’i.
Degg! Sang majikan kaget mendengar harga yang ditawarkan Syafe’i kepada pembeli. Padahal kemarin harga yang dia minta hanya 2,3 milyar, bukannya 3,2 milyar. Seolah tidak percaya, sang majikan langsung menyediakan waktu untuk bertemu calon pembeli di notaris hari itu.
Betul saja, rumah itu laku terjual dengan nilai 3,2 milyar rupiah.
Subhanallah, Syafe’i sudah memberi keuntungan kepada majikannya sebanyak Rp. 900 juta!!! Belum lagi efisiensi biaya renovasi rumah yang tidak kurang dari 140 juta rupiah.
Sang majikan mengulum senyum tanda puas atas dedikasi Syafe’i. Usai dari kantor notaris, di dalam mobil sang majikan berkata, “Nanti, sampai di kantor bilang kepada sekretaris saya, bahwa kamu disuruh saya untuk membuat paspor ya! Gak usah pake nanya macam-macam, pokoknya kamu bikin paspor, Syafe’i!” Tegas majikannya.
Syafe’i hanya menuruti perintah majikannya. Belakangan ia tahu bahwa ia mau diajak umrah sama majikannya sebagai syukuran atas penjualan rumah. Syafe’i mensyukuri karunia Allah Swt. yang tak terduga ini.
Beberapa hari lagi menjelang umrah, sang majikan berkata kepada Syafe’i dalam perjalanan pulang menuju rumah majikannya. “Syafe’i, kita kan mau pergi ibadah umrah meninggalkan keluarga. Pantang bagi kita sebagai laki-laki, kalau pergi jauh ninggalin rumah tapi tidak menyisakan bekal yang cukup buat keluarga yang ditinggal. Ini kebetulan ada rezeki. Jangan dilihat besar-kecilnya. Salam saya buat istri dan anak-anakmu!”
Syafe’i menerima sebuah amplop putih cukup tebal dari majikannya. Ia berucap hamdalah dan berterima kasih atas pemberian itu. Usai mengantar majikan pulang, Syafe’i pun kembali pulang menuju rumahnya.
Ia sampai di rumah. Amplop putih titipan majikan ia berikan kepada istrinya. Betapa terkejut sang istri begitu menghitung uang yang diberikan. Jumlah yang cukup banyak untuk sebuah keluarga supir seperti Syafe’i. Uang yang berada di amplop tersebut ternyata berjumlah 8 juta rupiah!!!
Subhanallah, angka tersebut sama seperti kebutuhan keluarga Syafe’i untuk biaya daftar anaknya kuliah. Namun yang lebih hebatnya lagi, Allah Swt. malah mengundang Syafe’i untuk berangkat umrah menuju rumah-Nya lewat cara yang tidak pernah ia duga.
Sungguh Allah maha tahu kebutuhan hamba-Nya, bahkan seringkali anugerah-Nya jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan!
“Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Ali Imran [3]:171)
"Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke sorga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan akan membewa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta" (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud)
Wallahu a'lam bishshawab, ..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...
KISAH INSPIRATIF
Langganan:
Postingan (Atom)
