Abu Hafsh sang pandai besi dari Nisyapur menunjukkan tanda-tanda anugerah yang aneh melalui kekuatan perhatiannya, dari awal ia menjadi murid. Ia diterima sebagai penganut Syeikh Bawardi, dan kembali ke bengkel melanjutkan kerjanya.
Ketika pikirannya terpusat, ia menarik sepotong besi membara dari tempaan dengan tangan telanjang. Kendati ia tidak merasa panas, pembantunya pingsan melihat pemandangan yang belum pernah terjadi ini.
Ketika ia menjadi Syekh Agung kaum Sufi di Khurasan, tercatat bahwa ia tidak berbicara bahasa Arab dan menggunakan penerjemah ketika berbicara dengan pengunjung Arab. Namun, ketika ia mengunjungi Sufi agung di Baghdad, ia berbicara dengan bahasa demikian bagus sehingga kemurnian bicaranya tidak tertandingi.
Ketika Syeikh Baghdad memintanya untuk mengatakan pada mereka arti kemurahan hati, ia menjawab, "Aku akan mendengar penjelasan yang lain lebih dulu."
Guru al-Junaid kemudian berkata, "Kemurahan hati adalah tidak menyamakan kemurahan hati dengan dirimu sendiri, dan tidak mempertimbangkannya."
Abu Hafsh berkomentar, "Perkataan Syekh sangat bagus. Tetapi aku merasa bahwa kemurahan hati berarti melakukan keadilan tanpa menghendaki keadilan."
Al-Junaid berkata pada yang lain, "Berdirilah kalian semua! Karena Abu Hafsh melebihi Adham dan seluruh bangsanya."
Abu Hafsh pernah berkata, "Aku meninggalkan kerja, dan kemudian kembali. Lalu kerja meninggalkanku, dan aku tidak pernah kembali." (Hujwiri: The Revelation of the Veiled)
http://www.republika.co.id/

Tidak ada komentar