Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Sering kali
ketika didera dengan cobaan, seseorang merasa pahit, dan enggan
menerimanya dengan ikhlas. Mulailah sang hamba berprasangka bahwa Allah
tidak lagi memperhatikannya, bahwa Allah tidak lagi menyayanginya.
Demikianlah jika manusia terlalu bising dengan duniawi. Andaikan saja ia sejenak mau menyendiri
dan tafakur, maka ia akan dapat melihat hakikat yang tidak dapat
dilihat orang lain, ia akan mampu mendengar di kesunyian sebuah suara
yang tak terdengar oleh orang lain.
Niscaya apa yang dilihat
dan didengarnya dalam kesunyian akan membawakan hikmah dari cobaan yang
didapatkan. Bahwa cobaan yang mendera justru adalah bentuk kasih sayang
Allah kepadanya.
Terkait dengan hal ini, Syaikh Abdul Qadir
Jailani ra. Dalam kitabnya Adab as-Suluk wa at-Tawasshul la Manazil
Al-Muluk, berkata :
Jika seorang hamba sedang diuji dengan
suatu cobaan, pertama-tama ia akan berusaha mengatasinya sendiri. Jika
tidak mampu, ia akan meminta pertolongan kepada makhluk Allah yang lain:
kepada penguasa, pejabat, budak dunia, atau kepada dokter.
Selama mampu mengatasinya sendiri, ia tidak akan kembali kepada makhluk
Allah yang lain. Atau, selama cobaannya bisa teratasi dengan bantuan
sesamanya, ia tidak kembali kepada Sang Pencipta.
Dan Jika
masih tetap tidak bisa, baru ia akan kembali kepada Allah Azza wa Jalla,
berdoa dengan rendah hati, bahkan menangis. Jika masih belum
mendapatkan penyelesaian dari Sang Pencipta, ia akan bersimpuh di
hadapan-Nya, berdoa dan menangis penuh rasa takut dan harap.
Lalu, Dia Yang Mahakuasa membuatnya lemah dalam doa, tidak
mengabulkannya hingga ia terputus dari semua sebab. Dalam keadaan
seperti ini, kekuatan mulai masuk kepadanya. Sang hamba pun mengalami
fana dari semua sebab dan gerakan, tinggallah ruh. Tidak ada yang tampak
selain tindakan Al-Haqq Azza wa Jalla.
Maka, timbullah
keyakinan dalam dirinya bahwa pada hakikatnya, tidak ada pelaku selain
Allah Azza wa Jalla. Tidak ada yang dapat menggerakkan dan mendiamkan
kecuali Allah.
Hanya Allah yang menguasai kebaikan dan
keburukan, manfaat dan mudarat, pemberian dan penolakan, pembuka dan
penutup, kematian dan kehidupan, kemuliaan dan kehinaan, juga kekayaan
dan kefakiran. Dan di hadapan-Nya, ia pun menjadi seperti bayi di tangan
ibunya, seperti mayat di tangan orang yang memandikannya, laksana bola
di tongkat seorang pemain.
Dirinya tak berdaya dibolak-balik,
diubah dan diperlakukan tuannya. Ia tidak bisa bergerak dengan
sendirinya maupun menggerakkan yang lain. Ia lenyap dari dirinya dalam
tindakan Sang Tuan. Ia tidak melihat selain Sang Tuan dan tindakan-Nya,
tidak pula mendengar dan berpikir selain Dia.
Jika ia melihat,
kepada Penciptanya ia melihat. Jika ia mendengar dan mengetahui, kepada
kalam-Nya ia mendengar, dan dengan ilmu-Nya ia mengetahui. Hanya
nikmat-Nya yang ia rasakan, hanya kedekatan denganNya yang membuatnya
nyaman dan mulia.
Ia bahagia dan tenang dengan janji-Nya,
hingga ia terasing dari selain-Nya. Ia berlindung kepada-Nya dalam zikir
dan munajat. Hanya kepada-Nya ia merasa yakin dan bertawakal.
Dengan cahaya marifah-Nya ia mendapat petunjuk, mengenakan jubah dan
serban cahaya, hikmah dan makrifat. Dengan ilmu yang diberikan-Nya ia
mengetahui berbagai misteri, dan ia menjadi mulia dengan rahasia-rahasia
kekuasaan-Nya.
Hanya yang datang dari Allah Azza wa Jalla yang
didengar dan diterimanya. Lalu, atas semua itu, ia memuji, bersyukur
dan berdoa.
Wallahu a'lam bishshawab, ..
#Semoga kita dapat mengambil pengetahuan yang bermanfaat dan bernilai ibadah ....
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

Tidak ada komentar